Oleh: Bolu
Akhir pekan ini aku tidak ke mana-mana. Cuma di rumah menemani Mam yang kelihatan sudah pulih seperti sedia kala. Diet makanannya yang harus dijaga ketat supaya diabetesnya tidak kambuh lagi.
Aku mengganti-ganti channel televisi tanpa niat menonton. Mam yang duduk di ujung sofa mendadak bertanya, “Tumben nggak pacaran.”
Pertanyaan wajar sebenarnya, tapi gambaran pertama yang terlintas dalam otakku adalah Danielle. Buru-buru aku mengenyahkan bayangan itu. Jelas yang dimaksud Mam adalah Pak Tio. “Nggak, Mam. Tio lagi ada urusan keluarga.” Padahal aku tahu Pak Tio sedang kencan dan Danielle sedang ada acara keluarga.
Mam cuma mengangguk, lalu meneruskan memasang puzzle. Oh ya, Mam itu hobi sekali main puzzle. Dia bisa memasang ribuan keping puzzle dengan sabar dan telaten. Kadang-kadang kalau lagi rajin, aku ikut membantunya. Kepingan puzzle itu ditaruh di lantai di dekat ruang televisi.
Melihatnya memasang puzzle membuatku berpikir betapa hidup juga seperti kepingan-kepingan puzzle. Setiap kepingannya harus diletakkan di tempat yang tepat jika tidak semuanya akan berantakan. Sering kali aku bingung di mana kepingan puzzleku harus kuletakkan. Terkadang aku merasa seperti outsider, misfit, unwanted. Tapi aku tahu satu tempat di mana aku tahu kepingan puzzleku selalu tepat. Di dalam keluarga. Di sana aku selalu merasa aman dan nyaman. Di sanalah tempatku.
Aku bangkit dari sofa menghampiri Mam. Duduk di sampingnya dan tanpa bicara mulai memunguti dan membantunya memasang kepingan-kepingan puzzle.
Sunday, November 15, 2009
Puzzle
Saturday, November 14, 2009
Tak Perlu Mencampur-Aduk
Oleh: Donat
Kalau ada yang bilang cinta dan karier dapat disatukan, berarti orang itu melakukannya sambil terjun bebas dari ketinggian lantai 28. Come on people, hanya karena kamu sudah ketahuan lesbian di kantor, apakah kamu akan selalu menenteng pacar ke sana? Sori, bukan seperti itu cara otak saya bekerja.
Orientasi seksual dan memperkenalkan pacar adalah dua hal berbeda yang tidak dapat sembarangan disatukan begitu saja. Demikian halnya dengan bisnis dan pacaran; juga adalah dua hal yang berbeda. Bagaimana mungkin para lesbian memandang orientasi seksual, memperkenalkan pasangan, berbisnis, dan berpacaran adalah hal yang sama dan dapat diaduk-aduk?
Ada apa dengan lesbian yang gila pengakuan? Saya tidak butuh pengakuan dari semua orang, seakan-akan dengan begitu saya dapat berteriak bangga "Ini dia pacar saya! Saya lesbian loh. Lihatlah dia baik-baik, cantik bukan?" Pengakuan orientasi seksual dan pengakuan punya pacar--sekali lagi--adalah dua hal yang berbeda dan terpisah jauuuh sekalim
Sejujurnya saya tidak ingin membawa siapa pun ke acara pesta Pak Bos. Bagi saya, semua kegiatan di mana kehadirannya adalah para tim kreatif dan karyawan Pak Bos, adalah tempat steril buat kehadiran girlfriend saya. Kemarin, sesungguhnya tekanan yang berlebihan dari pembaca dan Margareth membuat saya goyah dengan sikap prinsipil saya, tapi ternyata suara hati saya bergaung lebih keras: Saya. Tidak. Mau. Bawa. Pacar. Apalagi. Memperkenalkan. Dia.
Memikirkan ini, saya teringat kepada para selebriti ngetop sedunia yang mati-matian tidak ingin mengekspos anak-anaknya ke hadapan publik. Jika seluruh dunia tahu orientasi seksual saya, hal itu takkan membuat saya menggandeng pacar dan memperkenalkan ke sana kemari pada semua orang dengan mudahnya. Oya, catatan kecil. Itu mau saya lakukan hanya jika...
Hmmm.
...saya serius hendak menikahinya.
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, pernikahan
Friday, November 13, 2009
The Accident
Oleh: Brownies
Semua bagai mimpi buruk. Dengan tiap kejadian berkelebat cepat, seperti kilatan petir.
Dokter yang menanganginya sudah melakukan kunjungan kedua kali, tepat jam 10 malam tadi, kata Dokter kondisinya bagus. Hasil rontgen juga menunjukkan tidak ada tulang yang patah atau retak. Puji Tuhan... Setelah suster menyuntikkan cairan ke botol infusnya, dia mulai tenang napasnya mulai teratur dan mulai tertidur.
Aku sedang berada di rumah sakit, setelah sore tadi nyaris terjungkal dari kursi, kaget ketika menerima telepon dari seorang yang mengaku suster dari Rumah Sakit Siloam. Bianca kecelakaan dan sekarang berada di ruang UGD.
Tidak percaya! Tidak mungkin. Itu kalimat yang ada di kepala. Berkali-kali menegaskan aku tidak mau hal seperti ini dibuat sebagai candaan. Tapi memang tidak ada yang bercanda. Ini kenyataan.
Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan mengalami kejadian ini, hal yang kupikir hanya bisa terjadi pada orang lain atau hanya kejadian di sinetron.
Sore paling pekat dalam hidupku. Hujan seperti ditumpahkan dari langit. Jalanan digenangi luapan air. Macet mengular, kendaraan menumpuk di perempatan yang traffic lightnya tidak berfungsi karena pemadaman listrik PLN, dan aku harus bergegas menuju Rumah Sakit. Kalau tidak ditahan oleh sopir kantor, aku sudah ingin melompat keluar dari mobil dan berlari menerobos semua kekacauan, yang di kepalaku hanya ingin secepatnya mengetahui kondisi Bianca.
Aku tiba di rumah sakit setelah Bianca dipindah ke kamar perawatan di lantai 5. Tidak sanggup menahan tangis menatap Biancaku yang tegar, kuat dan mandiri kini berbaring tak berdaya. Selang oksigen menempel di hidungnya, di lengannya yang terkulai tertancap jarum yang mengalirkan cairan infus dan obat-obatan. Pelipisnya ditutup plester, lengannya memar.
Aku menelungkupkan wajah yang basah di sisi tubuhnya yang diam.
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Thursday, November 12, 2009
Aku Mau Kamu
Oleh: Bolu
Ternyata Danielle menikah karena desakan keluarga. Cerita basi di kalangan lesbian. Diulang-diulang sampai aku bosan mendengarnya. Orangnya saja yang berbeda, tapi ceritanya tetap sama. Danielle tidak pernah benar-benar mencintai suaminya. Satu cerita basi lagi.
Aku tidak pernah mengerti kenapa ada orang yang bisa terpaksa menikah. Mungkin aku tidak bisa mengerti karena aku bukan orang itu. Keluargaku bukan keluarganya. Ah, ngomong apa aku ini? Aku sendiri pacaran dengan gay karena aku mau menutupi kelesbiananku. Mengatainya berarti aku seperti koruptor teriak maling ke sesama koruptor.
Danielle juga bilang tidak ada yang salah pada suaminya, yang salah adalah dirinya. Dia yang tidak bisa mencintai suaminya. Danielle mengira bahwa rasa cinta itu akan tumbuh seiring waktu. Tapi ternyata bercinta dengan suaminya merupakan derita tersendiri. Aku memberikan telingaku untuk mendengarkan ceritanya, bahuku untuk tempatnya bersandar, dan hatiku untuk menampung hatinya.
Aku tahu ini permainan berbahaya yang kumainkan. Bisa jadi aku hanya terjebak dalam ilusi cinta masa lalu. Bisa jadi aku cuma pelarian Danielle. Bisa jadi hubungan ini tak ada arah tujuan. Tapi untuk hari ini, aku sama sekali tak peduli. Aku tahu apa yang aku mau. Danielle.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Wednesday, November 11, 2009
Terlambat Semuanya
Oleh: Donat
Saya ketiduran, nggak bisa bangun. Setelah semalam tidak tidur sampai subuh jam lima, siapa yang bisa bangun ketika matahari sudah berada di langit? Pada kesempatan ini, saya ingin komplain habis-habisan dengan pihak PLN yang sangat tidak profesional mengurus kepentingan negara dan rakyat. Bagaimana mungkin ibukota yang seluas Jakarta diabaikan sampai harus mengalami pemadaman listrik secara bergilir dan harus menunggu perbaikannya selama satu bulan?
Amel membangunkan saya jam delapan, tapi saya jatuh tertidur lagi. Jam sembilan saya terbangun oleh bunyi alarm, tapi lagi-lagi tertidur selama tiga puluh menit. Dan tepat pukul sepuluh saya terbangun oleh getaran hape yang tidak berhenti.
“Say, jadi pergi ke pestanya Pak Bos nggak?”
Saya menjawab dalam keadaan mengantuk. “Jadi....”
“Udah jam sepuluh. Kenapa belum bangun?”
Sayup-sayup terbayang wajah Pak Bos yang sibuk memimpin rapat. Otak saya langsung tajam. Sudah jam sepuluh? Jam sepuluh... Ya Allah. Saya melompat dari ranjang, menggapai jam dan langsung memelototi angka yang terpampang di depan mata. Brengsek. Beneran jam sepuluh. Saya ngibrit ke kamar mandi dengan hape masih menempel di telinga.
“Say, jadi gimana? Aku boleh ikut kamu nggak?”
Saya memencet odol sikat gigi, berusaha untuk fokus tapi tidak berhasil. Nyawa saya masih tertinggal di ranjang dan otak saya bersembunyi entah di mana. Saya tidak bisa diajak berkonsetrasi, apalagi diajak berdiskusi.
“Sayang...?”
“Aku sikat gigi dulu. Nanti kutelepon kamu.” Saya buru-buru sikat gigi dan terhuyung-huyung membuka baju untuk siap mandi. Sumpah, saya benar-benar lupa Margareth ketika saya menyisir rambut dan berdandan terburu-buru. Saya menyambar kunci mobil, langsung berlari keluar. Salahkan semuanya pada PLN, saya mau buat class action melawan PLN.
@Donat, SepociKopi, 2009
Tuesday, November 10, 2009
Tidak Diinginkan
Oleh: Brownies
Memutuskan untuk menjadi hero buat Santi dengan mengantarkannya ke rumah Bianca sekalian mencuri kesempatan bertemu Bianca ternyata menjadi pukulan telak.
Usahaku untuk bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa tidak berhasil. Di depan Santi, Bianca mempersilakanku untuk duduk di ruang tamu dan menunggu mereka selesai diskusi. Bayangkan, duduk di ruang tamu! Padahal biasanya aku langsung masuk ke kamar. Ini jauh lebih buruk dari pada kali pertama berkunjung ke rumah Bianca.
Santi yang tau keakrabanku dengan Bianca tak urung mengerutkan kening melihat sikapku yang mendadak kaku. Meskipun Bianca juga berusaha keras untuk menunjukkan bahwa "tidak ada apa-apa" dan semata ingin fokus menyelesaikan urusan dengan Santi.
Detik berikutnya aku tahu, kehadiranku tidak diinginkan.
Tak lama kemudian aku pamit, setelah tidak kuat mendengar percakapan Bianca dan Santi di ruang kerja yang bersebelahan dengan ruang tamu. Mereka begitu akrab dan bersemangat. Bianca antusias menjelaskan, Santi bagai murid cerdas sesekali menyela dan memberikan umpan balik. Sementara aku sudah tidak sanggup menahan kekesalan dan rasa bosan membolak-balik majalah SWA, Pengusaha dan beberapa tabloid yang isinya tidak jauh dari bahasan peluang bisnis.
Aku menyela diskusi mereka. Pamit di bawah tatapan tajam Bianca dan pandangan Santi yang tidak enak hati dalam segala ketidakmengertiannya. Dua orang yang baru sebulan yang lalu sama-sama menghiburnya, menguatkannya setelah tertimpa musibah, dan sama-sama mendukungnya untuk bangkit, malam itu berada dalam situasi yang sulit untuk dijelaskan.
Menjelang tengah malam, dua sms masuk berturut-turut.
Bu Nies, terimakasih sudah mengantar saya ke rumah ci Bianca. Semoga usaha saya ini lancar berkat dukungan Ibu dan ci Bianca. Maaf sudah merepotkan
-Santi-
Begitu susah kah membuat lo ngerti apa yang gue inginkan tanpa perlu gue katakan?"
-Bianca-
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Labels: #Brownies, bad mood, bisnis, pertemanan, sahabat
Monday, November 9, 2009
The Kiss
Oleh: Bolu
Tidak ada waktu untuk berpikir. Bibir Danielle sudah hinggap di bibirku tanpa sempat aku menghindar. Lagi pula aku juga sebenarnya tidak mau menghindar. Tapi tetap saja aku kaget dan tidak siap. Namun adakah saat aku benar-benar siap menghadapi semua ini?
Aku membalas ciumannya pertama dengan lembut, dan makin lama ciuman kami berisi gairah. Kerinduan bertahun-tahun dan hasrat yang penuh damba itu akhirnya tersalurkan juga. Bertahun-tahun bahkan untuk membayangkannya pun aku tidak berani.
Danielle menjauhkan wajahnya sehabis kami berciuman. Dia menunduk. Ada keheningan yang bising di antara kami sehingga aku harus menelan ludah dan berkata, "Maaf...," kataku.
"Kenapa kamu mesti minta maaf?" tanya Danielle. Pandangannya terangkat menemui tatapanku.
"Maaf, karena..." Aku tidak bisa melanjutkan.
"Jangan minta maaf, Bee. Aku harus berterima kasih padamu." Danielle menggenggam tanganku. Aku merasakan tangannya begitu dingin, sedingin es. "Aku tidak pernah tahu ciuman bisa begini indah. Dengan suamiku, aku tak pernah merasakan indahnya ciuman."
Belum sempat aku menjawab, kulihat air menggenangi mata Danielle. Perlahan, isak keluar dari mulutnya...
Kupeluk tubuh Danielle walaupun perutnya membuat posisi kami agak aneh. Ia terisak makin keras. "Oh, Bee, tolong aku, aku tidak bahagia dalam pernikahanku."
Tubuhku seketika mengejang. Rasa dingin di tangan Danielle berpindah merayapi punggungku.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Saturday, November 7, 2009
Sebelum Pesta
Oleh: Donat
Dari dulu para mantan saya tidak pernah datang ke acara yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Mulai dari pesta, syukuran, peluncuran film, konferensi pers, bahkan sampai malam anugerah/penghargaan resmi, saya tidak pernah datang menggandeng tangan seorang perempuan yang jadi pasangan saya. Saya dapat membagi dunia percintaan lesbian saya dengan pekerjaan yang strictly business dengan tegas.
Para mantan saya hanya sempat menjejakkan kaki di kantor saya, itu pun di ruang tunggu. Tidak pernah saya ajak mereka untuk masuk ke ruang kreatif, memperlihatkan ruang pertemuan, atau mengajak mereka duduk di ruang makan. Ketika Pak Bos menikahkan anak pertamanya di Bali, saya terbang ke Bali bersama mantan (dulu pacar saya) dan saya tinggalkan dia di hotel sementara saya menghadiri pesta resepsi mewah sendirian. Sejauh ini mantan-mantan saya tidak pernah mempeributkan mengapa mereka tidak dapat memasuki dunia kerja saya. Mungkin karena sudah jelas saya jelaskan di awal bahwa saya tidak ingin karier saya hancur hanya gara-gara ketahuan lesbian.
Tapi bersama Margareth berbeda...
"Lah, Pak Bos kan sudah tahu kamu lesbian, kenapa harus ditutup-tutupi lagi?"
Sejujurnya, saya tidak tahu persis apakah Pak Bos tahu saya lesbian.
"Ini kesempatan untuk mengecek air apakah suhunya bersahabat denganmu."
Sejujurnya, saya enggak mengerti secara persis metafora yang digunakan Margareth.
"Aku akan berdandan cantik deh, biar kamu nggak malu menggandengku."
Sejujurnya, saya enggak pernah malu menggandeng Margareth yang memang cantik tanpa perlu berdandan ekstra.
"Kamu enggak perlu menyebutku sebagai pacar. Kamu cuma..."
Shut up. Shut up. Saya mencium Margareth di bibir agar berhenti berbicara. Saya ingin punya waktu untuk berpikir. Masih ada 15 jam lagi untuk menentukan keputusan apakah saya akan membawa Margareth atau tidak. Ya, peristiwa ini terjadi pada Jumat malam, tepat tiga jam sebelum mati listrik yang membuat sebagian Jakarta terjaga sampai pagi karena udara panas, termasuk saya yang tidak tidur sepanjang malam sampai jam lima subuh.
@Donat, SepociKopi, 2009
Friday, November 6, 2009
Kesempatan
Oleh: Brownies
Santi yang mulai bangkit dari dukacita kehilangan anggota keluarga akibat gempa di kota Padang, benar-benar mengikuti saranku untuk mengembangkan bisnis dagangannya bekerja sama dengan Bianca.
"Bu, hari ini saya ikut Ibu pulang ya."
"Boleh." jawabku singkat sambil menyerahkan gulungan gambar yang barusan kuparaf.
"Tapi bukan nebeng, lho Bu."
"Maksud kamu?"
"Iya, bukan nebeng. Tapi ikut ke rumah ibu. Mau ketemu Ci Bianca, katanya kalau mau ketemu di luar jam kerja, ikut aja ke rumah Ibu, karena biasanya Ci Bianca pulang kerja langsung ke rumah Ibu atau Ibu yang ke rumah Ci Bianca. Gitu."
"Kapan Bianca bilang begitu?" tukasku.
Santi agak tersentak mendengar pertanyaanku yang tajam dengan ekpresi kaget dan heran. Jelas saja, sudah hampir seminggu aku tidak bertemu Bianca. Mendengar namanya seketika membuatku degup jantungku berpacu.
"Dua minggu yang lalu sih, Bu. Ci Bianca nawarin saya bisnis online, pasang iklan dagangan di Facebook. Nah, saya mau diskusiin tawaran Ci Bianca itu Bu. Mumpung malam ini bisa pulang cepat. Jadi kita kemana nih, Bu? Langsung ke rumah Ibu atau ke rumah Ci Bianca?" tanya Santi dengan percaya diri, seolah aku sudah mengiyakan permintaanya. Padahal...
Otakku berputar, aku sampai merasa harus memejamkan mata agar leherku bisa tetap tegak. Aku melihat sebuah kesempatan tapi rasanya sangat beresiko. Tik-tok-tik-tok-tik-tok.
"Oke, bereskan pekerjaan dulu. Nanti kita ke rumah Bianca saja. Dan jangan lupa, serahin dokumen gambar ini ke Mr. Tommy dulu."
Santi berbalik dan berlalu dengan ceria. Jantungku bertalu.
@Brownies, Sepocikopi, 2009