Oleh: Donat
Apakah sudah saya beritahu bahwa Nicole dan saya bekerja di dua dunia yang berbeda tapi perusahaan kami memiliki relasi penting satu sama lain? Saya baru tahu kurang lebih setahun lalu dan itu tidak mengherankan kalau Nicole berada di pesta ulangtahun anak kecil ini. Pasti Pak Bos yang ikut mengundangnya.
"Kasian." Mendadak saya mendecak.
"Kenapa kasian?" Tanya Nicole.
"Pesta anak-anak ini..." Saya melempar pandang ke seluruh tempat. "Isinya penuh teman-teman relasi opa-nya, bukan teman-teman mereka."
"Ini seluruh keluarga yang datang kan?"
Saya mengangguk, menyetujui, memperhatikan kue tart yang sedang dibagikan ke semua orang.
"Anak-anak ini sudah dipersiapkan membiasakan diri dengan apa yang orangtua harapkan, bahkan pada ulangtahunnya yang pertama..." Nicole mengambil kue tart yang ditawarkan kepadanya. "...bersama klien-klien opa. Mereka penerus kerajaan bisnis ini."
Saya merenung. "Bayangkan apa yang terjadi kalau mereka dewasa dan lesbi..."
"Nggak usah dipikirin!" seru Nicole memotong. Dia menyuapkan satu potongan besar kue tart ke depan mulutku. Saya tidak bisa mengelak kecuali akhirnya terpaksa menelannya. "Selama opa-nya bisa menerima kaum LGBT, keliatannya anak-anak ini akan aman-aman saja."
"Hmmm..." Saya tidak bisa ngomong apa-apa karena mulut saya sedang sibuk mengunyah kue tart. Nicole memandang saya dengan tatapan sayang.
@Donat, SepociKopi, 2009
Friday, November 20, 2009
Obrolan tentang Anak-anak
Thursday, November 19, 2009
Keluarga?
Sampai hari ini Bianca masih dalam pantauan dokter. Keadaannya tidak sesederhana yang Bianca ceritakan.
Hal ini aku ketahui ketika aku, mewakili keluarganya di minta ke ruang dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil pemeriksaan.
"Untuk pemeriksaan lebih akurat kami menyarankan pasien atas nama nona Bianca untuk melakukan pemeriksaan MRI untuk mendiagnosis lesi intrakranial."
Susah payah aku mencerna dan mengingat-ingat ucapan dokter yang penuh dengan istilah yang tidak aku mengerti.
"Maksudnya bagaimana itu, Dok?" setengah memohon agar dokter bisa memberikan penjelasan yang lebih bisa kupahami.
Setelah keluar dari ruang dokter, aku melangkah lungai menuju ruang inap Bianca. Menekuri kotak-kotak keramik kehijauan. Nuansa teduh yang berpendar lembut di sepanjang selasar rumah sakit sediki berhasil menenangkanku. Selebihnya hanya kegalauan. Ketakutan.
Ternyata trauma di kepala Bianca akibat benturan sempat membuat Bianca hilang kesadaran untuk sesaat. Dua hari kemarin, saat aku tidak bisa menemani Bianca, dia mendadak muntah beberapakali tanpa sebab yang jelas.
Awalnya aku tidak bisa menemukan hubungan semua ini dengan tingkat kegawatan kondisi Bianca. Hingga ketika Bianca mengalami kejang, meski singkat, dokter memutuskan untuk melakukan CT Scan.
"Trauma di kepalanya perlu kita observasi lebih lanjut, dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan kami butuh surat pernyataan yang ditandatangani oleh keluarga pasien."
Bukan benturan biasa
Ucapan dokter berulang-ulang bergema di kepalaku.
Keluarga pasien? Keluarga Bianca?. Bisakah aku mewakili mereka untuk keputusan sebesar ini?
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Wednesday, November 18, 2009
Berpikir
Oleh: Bolu
“Sudah kamu pikirkan, Bee?” tanya Pak Tio.
Aku diam pura-pura menyedot jus jeruk di depanku. Mataku menunduk melihat ke arah meja makan sementara aku tahu Pak Tio memandangiku lekat-lekat.
“Bee?”
Aku mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Dipikir-pikir sih udah, Pak.”
Aku sengaja memberi jeda, dan Pak Tio memandangiku tidak sabar.
“Lalu?” tanyanya lagi.
“Masih dipikirin sih sebenarnya, Pak.” Aku memilih cara mengulur waktu. Semakin lama semakin baik.
Pak Tio menghela napas. “Apa yang membuat kamu ragu, Bee?”
“Semua ini... pernikahan bukan sesuatu yang sama gampangnya seperti mengajak orang tur ke Bali.”
“Aku ngerti, Bee. Tapi kupikir salah satu alasan kita pacaran begini tujuannya kan menikah.”
“Tapi...” Aku menghentikan ucapanku. “Tapi aku tidak berpikir ke sana, Pak,” jawabku jujur.
“Kamu berpikir kita akan begini terus? Pacaran lalu putus?”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu aku mesti cari perempuan lain, lesbian lain, yang harus kuajak pacaran pura-pura... terus... apa, Bee?”
Kembali kusedot jus jerukku. “Ya....”
“Bee, cobalah melihat lebih jauh. Kamu mungkin belum terpikir tentang pernikahan sekarang karena kamu masih muda. Coba pikirkan nanti setahun dua tahun lagi. Keluarga kamu pasti akan bertanya-tanya soal status lajangmu. Kakakmu tahun depan menikah, kan?”
Aku mengangguk. Ya, Kak Cynthia akhirnya akan menikah tahun depan setelah lebih lima tahun pacaran. Giliran berikutnya adalah aku.
"Jadi, Bee, tolong, jangan terlalu lama memikirkannya..." Tangan Pak Tio terulur menggapai tanganku. Menggenggamnya erat-erat.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu, problem, relationship
Tuesday, November 17, 2009
At Party
Oleh: Donat
Siapa di sini yang menyukai anak-anak? Saya tidak suka. Bagi saya anak-anak itu berisik, kotor, bau, berantakan, dan mengganggu. Jangan kira karena saya adalah perempuan, maka menyukai anak menjadi hal yang alamiah. Enggak, sama sekali enggak.
Kepala saya sudah pusing melihat keramaian anak-anak di sekitar kolam renang pada perayaan ulangtahun Pak Bos. Baby sitter berkeliaran di mana-mana; menggendong, menyuapin, membujuk, dan menggantikan baju. Saya mencari tempat yang teduh di pinggir kolam renang sebelum saya mengambil segelas jus jeruk dingin.
Rumah Pak Bos yang ini besar. Saya sudah beberapa kali datang. Dia juga memiliki apartemen di tengah kota yang lebih sering saya kunjungi kalau harus rapat dan kebetulan Pak Bos sakit. Sakit atau tidak sakit, miting harus tetap jalan. Tim kreatif bergerak pindah ke tempat Pak Bos berada, entah di rumah, apartemen, mal, bahkan luar kota. Atasan saya memang luar biasa. Dedikasi dan cintanya kepada film, televisi, dan pekerjaan sungguh besar.
Tadi begitu datang, saya sudah bersiap untuk melenturkan lidah saya berbohong apabila Pak Bos bertanya tentang pacar saya. Tapi dia tidak bertanya. Saya menarik kesimpulan Pak Bos lupa tentang undangannya kepada satu orang lain lagi. Untunglah.
Lagi duduk-duduk sambil berbincang-bincang dengan sesama rekan kerja, tahu-tahu bahu saya ditepuk seseorang.
"Donna!"
Saya memutar kepala saya, terkejut melihat siapa yang sedang tersenyum memandang saya.
"Nicole!" seru saya kegirangan.
Saya menggeser pantat saya, memberikan ekstra ruang di sofa pantai yang saya duduki. Selama dua jam selanjutnya, saya dan Nicole asyik mengobrol berduaan dan lekat satu sama lain, sampai-sampai baru sadar setelahnya apakah mungkin Pak Bos mengira saya berpacaran dengan Nicole? Soalnya dia tersenyum-senyum melihat kami berdua.
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, love, pertemanan, pleasure
Monday, November 16, 2009
Kronologi
Oleh: Brownies
"Dari kejauhan sebenarnya gue udah ada khawatir bakal ada pohon yang tumbang, hujannya deras dan anginnya kencang banget. Plang di depan ruko sebelah kiri sudah ada yang oleng, pohon-pohon udah nggak karuan goyangnya. Waktu itu jarak dengan Inova di depan tidak begitu jauh dan gue nggak nyangka pohon yang goyang-goyang itu tiba-tiba rubuh di depan Inova. Gue kaget dan takut ketimpa pohon langsung banting setir ke kanan, untungnya itu jalan satu jalur. Udah nggak mikir mobil dari belakang. Jadilah moncong Vios gue nabrak trotoar kanan dan bokongnya diseruduk mobil yang mau nyalip dari belakang."
Aku mengangguk-angguk mendengar penuturan Bianca tentang kronologi tabrakan itu, membayangkan kengeriannya sambil membelai kepala Bianca. Refleks saja. Untuk sesaat tidak tau harus bersyukur atau menyesalkan kejadian ini.
"Tabrakan beruntun?" tanyaku.
"Iya," Mendadak tangan kiri Bianca menepis tanganku. Kepalanya begerak menghindari sentuhanku. Seketika rasa nyeri menjalari seluruh hati. "Itu, cewek yang kemarin di kamar sebelah yang punya mobil Inova." Lanjut Bianca tanpa ekspresi.
"Ngg, mobilnya penyok dong? Parah?"
Aku tau pertanyaanku terdengar tolol. Tapi hanya itu yang bisa keluar dari tenggorokan yang tercekat karena tepisan Bianca.
"Justru tidak. Cuma kena dahannya, dia shock ketakutan. Pingsan atau pura-pura pingsan nggak tau deh. Mobil gue yang parah, kena depan belakang. Gue mau nuntut tapi kasihan. Lagian diberesin sama asuransi ini kok."
Mataku panas. Tidak mampu lagi menahan.
"Biy... kamu masih marah?"
"Hah? Marah? Marah kenapa? Sama siapa?" Tatapannya jelas tidak menyadari apa yang barusan dia lakukan. Mungkinkah dia benar-benar tidak menyadarinya atau sedang pura-pura tidak menyadari?
"Kenapa aku nggak boleh belai kepala kamu?" tuntutku.
"Kapan?"
"Tadi. Waktu kamu cerita."
"Astaga, Beib!" Bianca mendesis, merapatkan giginya."Tadi itu lagi ada suster yang senyum-senyum perhatiin lo. Apa lo mau serumah sakit ini tau bahwa disini ada pasien lesbi?. Jangan bodoh deh. Lagian sensi amat sih. Pake nangis lagi. Ha ha ha. Malu tuh sama umur!"
Aku tersipu, buru-buru menyeka mata. Untuk pertamakalinya aku sangat menikmati kejudesan Bianca. Ah, dia masih memanggilku "Beib".
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Sunday, November 15, 2009
Puzzle
Oleh: Bolu
Akhir pekan ini aku tidak ke mana-mana. Cuma di rumah menemani Mam yang kelihatan sudah pulih seperti sedia kala. Diet makanannya yang harus dijaga ketat supaya diabetesnya tidak kambuh lagi.
Aku mengganti-ganti channel televisi tanpa niat menonton. Mam yang duduk di ujung sofa mendadak bertanya, “Tumben nggak pacaran.”
Pertanyaan wajar sebenarnya, tapi gambaran pertama yang terlintas dalam otakku adalah Danielle. Buru-buru aku mengenyahkan bayangan itu. Jelas yang dimaksud Mam adalah Pak Tio. “Nggak, Mam. Tio lagi ada urusan keluarga.” Padahal aku tahu Pak Tio sedang kencan dan Danielle sedang ada acara keluarga.
Mam cuma mengangguk, lalu meneruskan memasang puzzle. Oh ya, Mam itu hobi sekali main puzzle. Dia bisa memasang ribuan keping puzzle dengan sabar dan telaten. Kadang-kadang kalau lagi rajin, aku ikut membantunya. Kepingan puzzle itu ditaruh di lantai di dekat ruang televisi.
Melihatnya memasang puzzle membuatku berpikir betapa hidup juga seperti kepingan-kepingan puzzle. Setiap kepingannya harus diletakkan di tempat yang tepat jika tidak semuanya akan berantakan. Sering kali aku bingung di mana kepingan puzzleku harus kuletakkan. Terkadang aku merasa seperti outsider, misfit, unwanted. Tapi aku tahu satu tempat di mana aku tahu kepingan puzzleku selalu tepat. Di dalam keluarga. Di sana aku selalu merasa aman dan nyaman. Di sanalah tempatku.
Aku bangkit dari sofa menghampiri Mam. Duduk di sampingnya dan tanpa bicara mulai memunguti dan membantunya memasang kepingan-kepingan puzzle.
Saturday, November 14, 2009
Tak Perlu Mencampur-Aduk
Oleh: Donat
Kalau ada yang bilang cinta dan karier dapat disatukan, berarti orang itu melakukannya sambil terjun bebas dari ketinggian lantai 28. Come on people, hanya karena kamu sudah ketahuan lesbian di kantor, apakah kamu akan selalu menenteng pacar ke sana? Sori, bukan seperti itu cara otak saya bekerja.
Orientasi seksual dan memperkenalkan pacar adalah dua hal berbeda yang tidak dapat sembarangan disatukan begitu saja. Demikian halnya dengan bisnis dan pacaran; juga adalah dua hal yang berbeda. Bagaimana mungkin para lesbian memandang orientasi seksual, memperkenalkan pasangan, berbisnis, dan berpacaran adalah hal yang sama dan dapat diaduk-aduk?
Ada apa dengan lesbian yang gila pengakuan? Saya tidak butuh pengakuan dari semua orang, seakan-akan dengan begitu saya dapat berteriak bangga "Ini dia pacar saya! Saya lesbian loh. Lihatlah dia baik-baik, cantik bukan?" Pengakuan orientasi seksual dan pengakuan punya pacar--sekali lagi--adalah dua hal yang berbeda dan terpisah jauuuh sekalim
Sejujurnya saya tidak ingin membawa siapa pun ke acara pesta Pak Bos. Bagi saya, semua kegiatan di mana kehadirannya adalah para tim kreatif dan karyawan Pak Bos, adalah tempat steril buat kehadiran girlfriend saya. Kemarin, sesungguhnya tekanan yang berlebihan dari pembaca dan Margareth membuat saya goyah dengan sikap prinsipil saya, tapi ternyata suara hati saya bergaung lebih keras: Saya. Tidak. Mau. Bawa. Pacar. Apalagi. Memperkenalkan. Dia.
Memikirkan ini, saya teringat kepada para selebriti ngetop sedunia yang mati-matian tidak ingin mengekspos anak-anaknya ke hadapan publik. Jika seluruh dunia tahu orientasi seksual saya, hal itu takkan membuat saya menggandeng pacar dan memperkenalkan ke sana kemari pada semua orang dengan mudahnya. Oya, catatan kecil. Itu mau saya lakukan hanya jika...
Hmmm.
...saya serius hendak menikahinya.
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, pernikahan
Friday, November 13, 2009
The Accident
Oleh: Brownies
Semua bagai mimpi buruk. Dengan tiap kejadian berkelebat cepat, seperti kilatan petir.
Dokter yang menanganginya sudah melakukan kunjungan kedua kali, tepat jam 10 malam tadi, kata Dokter kondisinya bagus. Hasil rontgen juga menunjukkan tidak ada tulang yang patah atau retak. Puji Tuhan... Setelah suster menyuntikkan cairan ke botol infusnya, dia mulai tenang napasnya mulai teratur dan mulai tertidur.
Aku sedang berada di rumah sakit, setelah sore tadi nyaris terjungkal dari kursi, kaget ketika menerima telepon dari seorang yang mengaku suster dari Rumah Sakit Siloam. Bianca kecelakaan dan sekarang berada di ruang UGD.
Tidak percaya! Tidak mungkin. Itu kalimat yang ada di kepala. Berkali-kali menegaskan aku tidak mau hal seperti ini dibuat sebagai candaan. Tapi memang tidak ada yang bercanda. Ini kenyataan.
Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan mengalami kejadian ini, hal yang kupikir hanya bisa terjadi pada orang lain atau hanya kejadian di sinetron.
Sore paling pekat dalam hidupku. Hujan seperti ditumpahkan dari langit. Jalanan digenangi luapan air. Macet mengular, kendaraan menumpuk di perempatan yang traffic lightnya tidak berfungsi karena pemadaman listrik PLN, dan aku harus bergegas menuju Rumah Sakit. Kalau tidak ditahan oleh sopir kantor, aku sudah ingin melompat keluar dari mobil dan berlari menerobos semua kekacauan, yang di kepalaku hanya ingin secepatnya mengetahui kondisi Bianca.
Aku tiba di rumah sakit setelah Bianca dipindah ke kamar perawatan di lantai 5. Tidak sanggup menahan tangis menatap Biancaku yang tegar, kuat dan mandiri kini berbaring tak berdaya. Selang oksigen menempel di hidungnya, di lengannya yang terkulai tertancap jarum yang mengalirkan cairan infus dan obat-obatan. Pelipisnya ditutup plester, lengannya memar.
Aku menelungkupkan wajah yang basah di sisi tubuhnya yang diam.
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Thursday, November 12, 2009
Aku Mau Kamu
Oleh: Bolu
Ternyata Danielle menikah karena desakan keluarga. Cerita basi di kalangan lesbian. Diulang-diulang sampai aku bosan mendengarnya. Orangnya saja yang berbeda, tapi ceritanya tetap sama. Danielle tidak pernah benar-benar mencintai suaminya. Satu cerita basi lagi.
Aku tidak pernah mengerti kenapa ada orang yang bisa terpaksa menikah. Mungkin aku tidak bisa mengerti karena aku bukan orang itu. Keluargaku bukan keluarganya. Ah, ngomong apa aku ini? Aku sendiri pacaran dengan gay karena aku mau menutupi kelesbiananku. Mengatainya berarti aku seperti koruptor teriak maling ke sesama koruptor.
Danielle juga bilang tidak ada yang salah pada suaminya, yang salah adalah dirinya. Dia yang tidak bisa mencintai suaminya. Danielle mengira bahwa rasa cinta itu akan tumbuh seiring waktu. Tapi ternyata bercinta dengan suaminya merupakan derita tersendiri. Aku memberikan telingaku untuk mendengarkan ceritanya, bahuku untuk tempatnya bersandar, dan hatiku untuk menampung hatinya.
Aku tahu ini permainan berbahaya yang kumainkan. Bisa jadi aku hanya terjebak dalam ilusi cinta masa lalu. Bisa jadi aku cuma pelarian Danielle. Bisa jadi hubungan ini tak ada arah tujuan. Tapi untuk hari ini, aku sama sekali tak peduli. Aku tahu apa yang aku mau. Danielle.
@Bolu, SepociKopi, 2009
