Sunday, July 12, 2009

(Maunya) Living Together

Oleh: Donat

Menjadi lesbian susahnya setengah mati. Selain kena urusan masalah percintaan yang sepertinya nggak habis-habis, berikutnya adalah urusan usaha menggapai kebahagiaan. Semua orang ingin bahagia, iya nggak sih? Tapi di mana takaran kebahagiaan bagi masing-masing orang? Urusan ranjang yang kedengaran sepele menjadi masalah keributan bagi saya dan Margareth. Temanya jelas sebenarnya: kesiapan kami untuk living together

“Aku nggak boleh tinggal di sini?”

“Boleh, eh... nggak,” kata saya. “Eh, bukan begitu maksud saya. Nanti Amel bingung ngeliat kamu tidur sama aku.”

“Biarin aja. Kenapa mikirin Amel sih!” Mulut Margareth merengut. “Lagian, ini kan rumahmu. Kamu boleh mengajak menginap siapa saja yang kamu mau.”

“Iya, iya deh," kata saya. "Tapi kalau Mbak Nani datang, aku susah menjelaskan keberadaan kamu di sini.”

Margareth mendesah. “Dulu, katamu aku nggak bisa menginap karena ada Mama. Sekarang, kamu menyebut-nyebut Mbak Nani. Dia kan nggak tinggal di sini.”

Saya menghela napas. Sudah dua malam Margareth menginap di rumah menghabiskan wiken bersama-sama. Memang menyenangkan hidup berdua ditambah Amel yang tukang sibuk, rumah tak terasa sepi lagi. Tapi terus terang, saya mulai merasa nggak enak. Saya tidak mau Mbak Nani memergoki Margareth tinggal di sini.

Saya mengulet ke samping Margareth. Lagi bermalas-malasan di hari Minggu pagi di atas ranjang, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Saya melompat cepat, menuju ke ruang depan. Perasaan mulai nggak enak. Siapa sih yang datang di hari Minggu? Di depan, saya melihat Mbak Nani sedang berdiri di balik pagar. Bersama anaknya pula! Jantung saya mencelos seketika. Alamak...

@Donat, SepociKopi, 2009

Saturday, July 11, 2009

Tidak Ingin Tau

Oleh: Brownies

"Beib, gue mau ajak Evan jalan-jalan."

"Evan?"

"Lo kebangetan deh, Beib. Kalau lo lupa!" Matanya mendelik tajam.

Aduh, judesnya kekasihku ini. Sampai detik ini aku masih sering jantungan menghadapi gaya bicaranya yang berbeda 180 derajat dengan Hanny yang selalu bicara dengan lemah lembut. Memang tidak sepatutnya aku membandingkan mereka. Tapi mau tidak mau, perbandingan itu muncul begitu saja di kepalaku seperti terpapar dalam sebuah tabel lengkap dengan grafiknya.

Meski di awal ketika intens berkomunikasi lewat telepon kejudesan tidak begitu kentara karena tulisannya jauh lebih tajam, tapi setelah mengenalnya lebih jauh aku semakin mengerti memang begitulah karakternya, blak-blakan tidak suka basa-basi dan terkesan ketus. Lihat saja, dia masih tetap ber"Elo-Gue", meski sekarang sudah diembel-embeli sebutan "Beib".

Kalau tidak mau disembur dengan lidah naganya, aku musti mengingat-ingat Evan. Evan siapa ya? Ponakannya?! Bukan.

Oh, Tuhan... Aku ingat!

"Evan, anak laki-laki yang kamu ajak waktu ketemuan di Museum Fatahillah dulu?!"

"Iya. Tuh lo ingat."

"Nyaris lupa. Aku lebih ingat sama perempuan yang menggandengnya." Aku tersenyum menggodanya, tersenyum lega juga karena tebakanku tidak salah.

"Nggak heran, deh." Dia mencibir sambil menyendokkan potongan ikan ke piringku. "Elo kok nggak pengen tau soal Evan sih, Beib?" Dia mencondongkan kepalanya menatap ekspresiku.

"Hm, tidak. Kecuali kamu ingin menceritakannya," jawabku dengan santai.

Gantian aku memerhatikannya menarik napas sambil terus menikmati makan siangnya. Aku menunggu kelanjutan ucapannya, cerita tentang Evan yang mungkin menurut dia aku perlu tau.

"Ya, syukur deh kalau gitu. "

Hanya itu yang dia ucapkan, kalimat yang menggantung, sebelum akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.

@Brownies, SepociKopi, 2009

Friday, July 10, 2009

Lamunan Malam

Oleh: Bolu

Tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ally menangis semalaman nggak mau berhenti. Katanya sih kembung. Aku jadi ikutan terbangun jam dua pagi. Tidak bisa tidur lagi, aku membuka internet dan mengecek Facebook-ku. Aku masuk ke Yahoo! Messenger. Tidak banyak orang yang online pada dinihari seperti ini. Tapi satu nama mengusik perhatianku. Eve.

Ngapain dia online malam-malam begini? Buru-buru aku mengklik ikon invisible agar tidak terlihat olehnya? Sebuah tindakan yang lebih karena ge-er, sepertinya. Belum tentu dia melihatku. Sudah dua bulan sejak kontak terakhir kami. Kadang-kadang aku teringat pada Eve, tapi tak sekali pun aku pernah berkomunikasi dengannya.

Kagok rasanya kalau harus bicara dengan Eve. Dan kurasa basa-basi nggak ada gunanya lagi. Aku bukan tipe yang bisa berteman dengan mantan. Aku nggak peduli sama apa yang terjadi dalam hidupnya. Sama siapa dia sekarang. Bagaimana hidupnya sejak tidak bersamaku lagi. Nggak penting dan nggak mau tau. Life goes on there's no use to look back...

Saat sedang browsing sambil melamun, tiba-tiba muncul chatbox YM dari Eve:

"Hai Bee."

Tanganku bergerak pelan. Bingung. Seakan-akan kukuku terbuat dari besi seberat sepuluh kilogram. Pertanyaan berputar-putar di benakku, mengapa dia menyapaku?

"Hai Eve."

Jam dua pagi, diselimuti keraguan, berjuang dengan egoku, menghadapi masa lalu sambil mendengar suara Ally yang menangis kencang sebagai latar belakang. Great, it's just great.

@Bolu, SepociKopi, 2009

Thursday, July 9, 2009

Tentang Amel

Oleh: Donat

Pulang dari wawancara, waktu telah mendekati Dzuhur. Kepala saya pusing, malas ke kantor. Keadaan di sana pasti kosong karena orang-orang telah pergi makan siang. Saya memutuskan pulang ke rumah dulu untuk makan siang bersama Amel.

Waktu saya pulang, rumah dalam keadaan sepi. Saya melewati ruang makan, memasuki dapur, dan terkejut melihat Amel sedang berdiri di tangga membongkar langit-langit dapur.

"Mel!" seru saya heran. "Sedang ngapain di sana?"

Amel menurunkan kepalanya sehingga rambutnya terayun-ayun ke bawah. "Mau pasang perangkap tikus, Mbak. Ada tikus gede di dapur. Hiiih!" Dia bergidik, lalu melanjutkan kesibukannya di atas.

Di dapur, justru saya yang panik. "Mel!" teriak saya lagi. "Hati-hati. Memangnya nggak bisa pasang perangkap di sini aja?"

"Otak tikus ini canggih, Mbak. Kalau perangkapnya cuma ditaruh di sana sih mendingan nggak usah sebab udah beberapa kali dia berhasil menghindar. Udah, biarin Amel pasang di sini aja. Ini perangkap baru ketiga yang Amel beli di pasar."

Amel mengangkat tubuhnya sehingga tangannya dapat mendorong perangkap tikus jauh ke balik eternit. Saya menahan napas. Amel terpeleset sedikit, tangga berderak kencang. Saya menjerit, buru-buru memegangi tangga agar tidak terjatuh ke lantai. Setelah selesai dengan tugasnya, Amel menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Begitu menjejak lantai, dia menatap saya sambil nyengir lebar.

"Udah beres, Mbak." Dia mencubit lengan saya. "Mbak? Mbak? Jangan bengong begitu ah!"

"Bengong?!" tukas saya bersungut-sungut. "Tadi kalau kamu jatuh, aku bakalan marah-marah, nggak bakal ada rasa kasihan. Lain kali nggak usah melakukan aksi akrobat di rumah ini!"

"Ahh, Mbakku yang manis, jangan marah-marah, nanti nggak cakep lagi."

Saya melengos kesal. Amel bergelayut di pundak saya, bermanja-manja sambil berusaha menghibur. Saya memegangi tubuhnya agar kami tidak sama-sama terjatuh.

Oiya belum saya beritahu ya? Kaki Amel kecil sebelah. Dia kena polio sewaktu berusia tiga tahun.

@Donat, SepociKopi, 2009

Wednesday, July 8, 2009

Pilihan

Oleh: Brownies

Aku mendapati diriku duduk di antara deretan orang-orang yang menunggu antrian untuk menyerahkan "suaranya". Tempat ini dipenuhi aura nasionalisme yang begitu kental. Sekali dalam lima tahun, sebagai masyarakat biasa kami mendapat tempat dan perlakuan yang istimewa. Triliunan rupiah digelontorkan untuk mendengar suara kami yang selama ini tidak didengarkan. Bahkan suara kami rakyat biasa ini digembar-gemborkan akan menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.

Melirik ibu-ibu disebelah, berbisik-bisik menanyakan pendapat ibu yang duduk di sebelah kanannya, mengeluhkan kebimbanga tentang siapa yang akan dipilih. Aku tersenyum menelan ludah. Kita sama, Bu.

Manusia dengan tingkat ke plin-planan tinggi seperti aku, selalu bermasalah dengan pilihan. Hingga menit-menit terakhir pun aku belum bisa memutuskan akan memilih siapa.

Dalam memutuskan pilihan-pilihan hidupku, sering merasakan otak dan perasaanku sepakat untuk tidak bersepakat. Saat logika berkata A, perasaanku berkata Z. Demikian sebaliknya.

Seperti halnya penolakanku untuk pulang bukan berarti hal final, ada bagian dari hatiku yang masih berontak. Tapi ya sudahlah, mengalir saja, aku percaya pada suatu titik waktu akan ada yang lebih mendominasi, pikiran atau perasaan. Dan pada saat itu keputusan harus kuambil, apapun konsekuensinya.

"Ibu Nies"

Petugas TPS memanggil namaku. Aku beranjak ke meja, mengambil surat suara dan melangkah ke bilik suara. Membuka lipatan kertas suara, membentangkannya di atas meja.

Lalu pilihan pun ditetapkan.

Aku kembali melangkah untuk memasukkan surat suara ke kotaknya. Lalu menuju tempat tinta, mencelupkan ujung kelingking dengan perasaan lega.

Handphone dalam kantong kanan jeansku bergetar. Ada SMS masuk.

Oh, SMS dari Bibiy.

Nyontrengnya sdh selesai, Beib? Nanti langsung ke rmh aja ya.

@Brownies, SepociKopi, 2009

Tuesday, July 7, 2009

Rancangan Rapi

Oleh: Bolu


Aku dan Pak Tio merahasiakan hubungan kami di kantor, tentunya. Paling tidak, belum ada pengumuman resmi. Belum saatnya. Urusan kantor bukanlah prioritas utama kami. Lagi pula apa sih yang bisa diberitahu kepada orang-orang kantor? Relationship macam apa yang kami punya? Tapi aku yakin, gosip akan menyebar sebentar lagi karena seringnya aku pulang diantar Pak Tio.

Pak Tio mengajakku sekali bertemu dengan keluarganya. Senyum dan banyak mengangguk. Bersikap ramah. Ibu Pak Tio sangat ramah, tidak sampai cerewet seperti tanteku sih. Dia kelihatan bahagia melihat Pak Tio membawa "teman" perempuan ke rumah. Kebahagiaan yang tulus dan tidak dibuat-buat. Aku bisa melihat binar harapan di matanya, dan pada saat yang sama binar itu juga membuatku membuang muka tak sanggup membuatnya kecewa.

Adegan aku ke rumah Pak Tio sudah dirancang dengan rapi. Pura-puranya aku datang tanpa sengaja. Pak Tio sudah pergi dari rumah lalu menjemputku untuk menghadiri dinner party klien kami. (Yang sebenarnya hanya karangan). Lalu Pak Tio dan aku kembali lagi ke rumahnya karena undangan yang harus dibawa tertinggal di rumah Pak Tio. Demi kesopanan aku harus masuk ke rumah dan bertemu dengan ibunya.

Rancangan adegan tersebut berjalan sukses, kata Pak Tio. Pulang dari "party" itu ibunya bertanya ini-itu kepada Pak Tio. Aku tidak bertanya apa "ini-itu"nya. Terlalu personal rasanya bertanya seperti itu.

Sementara aku sendiri sebulan terakhir ini nggak pernah mengajak Pak Tio masuk ke rumah. Kami juga jarang pergi. Kadang-kadang kuminta Pak Tio menjemputku di rumah pada weekend lalu meninggalkanku di mal untuk hang out bersama teman-temanku, kemudian dia akan mengantarku pulang nantinya.

What a boring life. Seringnya, namanya juga single, aku menghabiskan waktuku sendirian.

@Bolu, SepociKopi, 2009

Monday, July 6, 2009

Kamu Novelis Bukan?

Oleh: Donat

Saya berdiri kebingungan di depan perempuan yang terbaring di lantai. Suasana damai berubah gaduh. Beberapa pelayan yang bekerja di sana mengelilingi greeter tersebut, berusaha membangunkannya. Saya sendiri berdiri terpaku salah tingkah, tidak melakukan apa-apa karena terlalu kaget. Setelah beberapa saat, keadaan menjadi terkendali setelah pekerja yang perlahan siuman dipindahkan.

Efek pasca-pingsan itu membua kaki saya gemetaran. Debar jantung tidak berhenti menggila. Ada-ada saja! Saya bergerak masuk ke lounge, merasa aura percaya diri merosot tiga poin. Nah, itu dia. Seseorang melambai kepada saya sambil tersenyum. Saya mengangguk, bergerak ke meja yang terletak agak di tengah.

Wartawan itu bernama Siska. Di sebelahnya, tampak seorang lelaki yang sedang duduk dengan tenang dan diam. Lelaki itu adalah sahabat saya yang bekerja di bidang yang sama, seorang penulis skenario yang sangat terkenal dan saya kagumi. Namanya Hilman “Lupus” Hariwijaya. Kami langsung mengobrol dengan seru. Hilman yang dari sononya memang pendiam kebanyakan diam.

“Sudah berapa lama berkarir di bidang ini?”

“Sekitar tujuh tahun.”

“Enak ya jadi scriptwriter, Mbak?”

“Jelas enak kalau memberikan penghasilan yang makmur.”

“Apa Mbak hanya bekerja sebagai penulis skenario saja?”

Saya mengerutkan alis, merasa heran dengan pertanyaannya. “Maksudnya?”

“Tulisannya udah pernah diterbitkan belum? Kayak Mas Hilman nih, karya-karyanya sudah diterbitkan dan ditayangkan. Menjadi buku dan film, begitu maksudnya, Mbak.”

Saya terdiam. Kata-kata mendadak kocar-kacir di kepala. Bolehkah saya memberitahunya tentang keberhasilan saya menulis novel lesbian Club Camilan? Bahwa saya pun – bukan hanya menulis skenario – tapi juga menulis novel seperti Hilman? Saya ingin, tapi... Siska memandang saya sambil tersenyum, menunggu jawaban. Di sebelahnya, Hilman tidak berkata apa-apa tapi matanya lurus memandang saya. Gempa bumi berguncang di kursi yang saya duduki. Sepertinya, adegan mengagetkan greeter yang pingsan tadi terjadi (lagi) detik ini juga.

@Donat, SepociKopi, 2009

Sunday, July 5, 2009

Sepahit Kopi

Oleh: Brownies

Tanganku lungai menjauhkan handphone dari telinga. Pelipisku mendadak nyeri hingga tangan kirik refleks menekannya kuat-kuat menghadang agar rasa nyeri itu tidak menjalar ke seluruh kepala. Aku tidak sanggup membuka mata, kerena silau cahaya hanya membuat gambaran kenangan itu semakin jelas dan membuat rasa nyeri pelipis makin menjadi. Kupaksa kelopakmata tetap dalam keadaan terpejam. Biar gelap, biar hening, agar semua lenyap, agar semua terlupakan.

Bisakah aku hanya memilah-milih hal terbaik dari kepingan hidup untuk kuceritakan? Bukankah itu seperti menyisihkan rasa pahit dari kopi dan membiarkan aromanya?

"Pulanglah, Yuk. Sebentar saja" Ini kali ketiga dalam minggu ini Ninda menelepon. Pertama mengabarkan Mama jatuh di kamar mandi dan kakinya bengkak keseleo. Tidak ada obrolan banyak waktu itu, aku hanya mengatakan secepatnya akan mentransfer untuk biaya pengobatan Mama. Kalau perlu sekalian saja berobat ke Singapura biar pengobatannya nggak bertele-tele. Kali kedua, mengabarkan perkembangan kondisi Mama yang masih belum bisa bangun dan memintaku pulang, aku menolak.

"Apa kalau aku pulang kaki Mama akan sembuh?"

"Jangan ngomong begitu, Yuk. Nanti Ayuk menyesal" nada suaranya ditekan memperingatkanku.

"Ninda, aku sudah tidak bisa menghitung berapa banyak penyesalanku. Tapi apa semua itu bisa membuat Mama bisa mengerti keadaanku dan tidak selalu memaksakan kehendaknya? Apa Mama pernah menghitung penyesalanku? Tidak, kan? Enam tahun, Nin. Enam tahun aku nggak pulang. Toh selama itu semua baik-baik saja kan? Mama lebih bisa menghargaiku kalau aku jauh. Sedikit saja lebih dekat aku bau kotoran"

"Itu kesepakatan konyol. Mama dan Ayuk sama-sama keras kepala. Kalau sudah emosi lupa sama segala hal"

"Sudahlah. Tidak udah dibahas lagi. Kamu juga jangan terlalu mendramatisir. Lagian Mama toh hanya keseleo"

"Terserah Ayuk saja lah."

Aku merasakan kepahitan memenuhi tenggorokanku. Kepahitan karena menyimpan kebencian pada sikap perempuan yang telah melahirkanku dan membesarkanku dengan penuh perjuangan. Aku tahu Mama mencintaiku, tapi tidak berarti berhak 100% memutuskan apa yang harus aku lakukan. Apalagi memutuskan aku harus menikah dengan siapa. Itu mengerikan.

Semua ini membuatku berpikir kalau hidupku tidak akan pernah lepas dari kepahitan. Seperti rasa pahit yang tak akan mungkin terpisahkan dari kopi.

@Brownies, SepociKopi, 2009

Saturday, July 4, 2009

Cerita Cinta

Oleh: Bolu

Saat berada di sampingnya aku sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Rambutnya dipotong pendek dan dibentuk dengan model acak-acakan, tapi modis dan bergaya. Penampilannya yang tenang dan cool membuatku sering menahan napas kalau ada di dekatnya. Tidak mengerti mengapa selalu tertarik dengan mereka yang tidak bawel dan dapat mengendalikan diri.

Kalau ada kesempatan untuk menyentuhnya, aku akan melakukan sentuhan-sentuhan persahabatan yang tidak penting, yang oleh mata awam adalah kegiatan sepele. Tapi sentuhan semacam itu membuatku berdebar-debar.

Jika bisa punya waktu untuk dihabiskan bersamanya, dengan penuh semangat aku mengikutinya ke mana pun dia pergi. Menonton bioskop bersamanya. Jalan-jalan ke mal. Menemani minum cokelat kegemarannya.

Sejauh ini aku tidak pernah menyatakan perasaanku padanya. Diam berarti emas, nggak tau siapa orang menyarankan itu. Aku tidak tahu merasa bodoh atau gembira, memikirkan bagaimana aku belum memberitahu apa yang kurasakan kepadanya.

Melihatnya membuatku berpikir tentang siapa aku, tentang hatiku, tentang (si)apa yang aku inginkan dalam hidup. Hanya menyebut namanya saja, jantungku berdebar-debar dengan kencang.

Danielle.

Anak baru. Baru saja sebulan datang, tapi rasanya aku sudah kena demam berkepanjangan. Nama itu tercecap dalam lidahku seperti permen mint yang lumer pelan-pelan. Mengalir masuk kerongkonganku. Meninggalkan rasa manis yang menimbulkan rasa ingin lagi dan lagi.

@Bolu, SepociKopi, 2009