Oleh: Arie Gere
Bila kita sedang berbelanja di hipermarket, maka tengoklah beraneka ragam camilan yang menggoda dan tertata apik di pojok makanan dan minuman. Saat keranjang atau troli belanja sudah penuh dan sesak dengan barang-barang utama daftar belanja, namun tetap saja, lirikan camilan yang menggoda tak mampu terelakkan oleh mata. Dicoba sekali, tetapi rasanya ingin mengunyah berkali-kali. Diteguk sekali, namun lidah masih saja terus mengecapi jenis-jenis cicipan lainnya. Menggoda! Itulah kata kuncinya. Awalnya tergoda, lalu ketagihan. Begitulah kira-kira tentang gambaran sekilas blog Camilan SepociKopi yang terbit setiap hari, sebuah karya persembahan menarik dari Lesbian Webzine SepociKopi.
Secuil, tetapi terus-menerus. Ingin lagi, lagi dan lagi. Penulis Camilan memulai kisahnya dengan tulisan-tulisan ringan namun mampu membuat para pembaca penasaran dan terus menunggu kisah kelanjutannya. Satu hari, satu tulisan, satu penulis. Entah bagaimana awalnya, para penulis hanya bertutur sederhana tentang kisah-kisah kehidupan mereka, tanpa diawali dengan sebuah perkenalan resmi kepada pembacanya. Perkenalan blog Camilan hanya diulas sekali saja oleh Lakhsmi, dalam tulisan berjudul “The Gift” (1 Juli 2008). Sedangkan di blog Camilan, para penulis hanya benar-benar menulis saja tanpa mencantumkan tujuan atau narasi singkat tentang isi blog-nya. Para pembaca baru mungkin sedikit mengerutkan dahi tentang apa dan bagaimana isi Camilan yang dibacanya. Namun demikian, itulah key factor-nya. Penasaran. Pembaca terbius membaca tanpa henti, tak sabar menunggu kelanjutan kisah para penulis kesayangan; Donat, Bolu, Brownies; di hari-hari selanjutnya. Demam sinetron episode demi episode? Tergila-gila pada komik dengan seri-seri berlanjut? Seperti itulah kehadiran Camilan, yang membius para pembacanya hari demi hari dengan kisah-kisah para penulisnya. Sebuah persembahan blog-drama miniseri yang menampilkan kisah nyata lesbian masa kini, dengan beraneka ragam cerita cinta, pekerjaan, persahabatan, keluarga, keluh kesah, pengharapan dan cita-cita yang ingin dicapai para penulisnya, Donat, Bolu, dan Brownies.
Donat mengisi ruang-ruang kosong memori pembacanya dengan kisah cinta yang mengambang terhadap tiga perempuan sekaligus , Nicolle Rosalinda, Margareth dan Maya. Sepertinya, Donna (panggilan Donat) benar-benar pasrah dan mengaburkan pembaca karena tak dapat memutuskan kepada siapa cintanya harus berlabuh. Padahal jelas, Donna tak bisa berhenti memikirkan kelinci putihnya, Nicolle. Terlihat dari tulisan berjudul “Everything is illuminated’’, dimana Donna menempatkan Nicolle sebagai yang pertama harus ditemui setelah kepulangannya ke Jakarta sebelum bertemu Maya dan Margareth. Namun demikian, tak serta merta tentang cinta, para pembaca juga turut menyatakan duka yang mendalam hanya dengan membaca judul ‘’Hari ini Ibuku Meninggal’’ pada postingan Camilan yang ke-274. Ditambah lagi, Donna dengan lugas dan berani menceritakan kisah broken home ayah dan ibunya, sampai kemunculan tokoh Amelia di dalam cerita.
Bolu bercerita tentang kisah cintanya dengan dua orang sekaligus, laki-laki dan perempuan, Rico dan Eve, sampai Bolu menyadari siapa yang paling pantas dipilih di antara keduanya. Namun, pembaca makin dibuat penasaran dengan kehadiran seorang tokoh lainnya, yaitu Pak Tio, pimpinan Bolu di kantor yang ternyata adalah seorang gay dan menjalin hubungan persahabatan erat dengan dirinya. Bagaimana kelanjutannya, apakah Bolu dan Pak Tio akhirnya memutuskan untuk ‘berpacaran’ demi tujuan-tujuan tertentu? Nah, inilah yang membikin pembaca terpaksa menunggu sebulan lamanya sampai Season Kedua ditayangkan.
Brownies, anak Palembang yang mengalami gagal cinta teramat dalam, ketika kekasihnya terpaksa menikah dengan seorang lelaki pilihan keluarga. Brownies pun ditinggal kawin oleh Hanny. Hatinya patah, terluka, terpukul sampai-sampai emosinya yang tak stabil. Hampir saja dia merusak karir desain arsitektur dan interior yang telah dibangunnya. Saat itulah, Aiko hadir menawarkan kisah cinta kepadanya dan membuat hari-hari Brownies semakin penuh liku-liku. Apakah nyata ataupun fiksi, Brownies berhasil membuat salah satu pembacanya gemas habis-habisan dengan sikap plin-plannya yang tak berkesudahan. Di sinilah Bianca menampakkan taring aslinya kepada Brownies sampai keduanya bertemu di sebuah museum. Apakah keduanya malah berpacaran sesudahnya? Entahlah, tunggu saja di Season selanjutnya.
Sekali lagi, terlepas dari kisah nyata ataupun fiksi, statistik pengunjung menunjukkan bahwa Camilan berhasil meraup angka di atas 60.000 untuk jumlah pengunjung sampai dengan selesainya Season Pertama. Angka yang fantastis untuk sebuah sub-blog lesbian. Memang, jumlah pengunjungnya tak sebanyak jumlah pengunjung situs induknya, karena hanya sekitar 12% dari jumlah pengunjung setia SepociKopi yang juga menjadi pengunjung setia Camilan. Namun demikian, “Small, Slow, Sustain", itulah konsep alur tulisan yang sedang mengalir di jiwa Donat, Bolu dan Brownies. Berkarya, terus berkarya, dan mari berkarya.
@Arie Gere, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 1, 2009
Pemenang Lomba Resensi: Camilan yang Menggoda
at 11:27 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
Wow. Rie. Kapan dunks kita nge-rock lagi?
Suitttt. Suitttt.
d`
P.S : Congratulation, ArieGR.
ah... sokkk kaaaaaaaliiii kau dee..
kuajak ngedate gak mau
diadd di YM kau reject terusss aku..
sok kaaaaaaallllllliiiiiiiiiii..
Pemuda Setempat berkata,
Mauliateee Guodannngg.. Bah..
Arie
Massssyaa ALLAH!
Fitnah lebih kejam daripada mebunuh. :p
Kapan sih kamu add aku, abang guantengkkkkkk? Masa sih? *garuk2 kepala walau ga kutuan.
(ini serius lho)
Ya udah, sini tak add dengan hormat, wahai Wanita Pemenang Lomba Resensi Sepocikopi. :p
Aku bukannya tak mau (batak xxxx). Kebetulan saja awak ada halangan!
xiixixixiix
Post a Comment