Oleh: Sky
Saat ini pukul 1.17 dinihari. Setelah seharian menyala, akhirnya laptop ini akan aku beri kesempatan untuk beristirahat juga. Setelah seharian bekerja, akhirnya aku memilih untuk terlelap juga.
Aku ingin bermimpi tentang pelangi. Tentang warna warni penuh tanda tanya yang baru saja aku baca. Tentang tiga orang perempuan yang bahkan tidak aku ketahui nama aslinya. Tentang wajah tertutup bayang-bayang rona merah jingga. Tentang para penulis Camilan SepociKopi dan kehidupan mereka.
Donna, seorang scriptwriter yang berusaha menemukan ujung dari jalan cintanya yang tak henti menetaskan cabang-cabang baru. Nies, arsitek yang berusaha merangkai cerita baru, namun masih dibayangi oleh masa lalu. Bee yang menapaki tikungan jalan selangkah demi selangkah di sisi karier di bidang marketing-nya. Haruskah memaksa diri untuk berjalan lurus meski adanya enggan membuat langkah tertatih? Bolehkah tetap menikung dan mengacuhkan senyum Mama yang menyiratkan seribu harap akan pernikahan sang anak... dengan seorang lelaki, tentunya?
Orangtua dan keluarga memang tidak dapat diacuhkan begitu saja. Ketika pertama kali membuka mata, mereka telah ada di sana, memandang dengan penuh haru. Ketika harus menutup mata untuk terakhir kalinya, besar kemungkinan bahwa mereka juga akan ada di sana, mengantar dengan penuh ragam yang harus ditahan. Hal ini juga tampaknya disadari dan ditampilkan oleh ketiga penulis Camilan SepociKopi. Donna, misalnya, akhirnya memilih untuk membatalkan rencana pembelian apartemen dan membiayai pengobatan ibunda tercinta. Di sisi lain, Nies menyadari bahwa langkahnya di jalan menikung mungkin diawali oleh keinginannya untuk menjadi kuat dan menggantikan sang ayah yang telah tiada untuk melindungi keluarga. Sementara itu, Bee tidak bisa menyalahkan keluarganya atas rasa suka sesama yang ia miliki, dan memilih mencoba menghabiskan waktu dengan seorang lelaki untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan keluarganya.
Namun, adakah itu menghentikan langkah mereka di jalan panjang yang terus menikung? Ternyata tidak. What they don’t know don’t hurt. Mungkin kalimat itulah yang paling tepat menggambarkan keadaan mereka semua. Berjalan di setapak menikung memang tidak mudah. Menjadi lesbian di negara yang masih menabukan hubungan sesama jenis seperti Indonesia berarti harus siap menghadapi konflik, baik internal maupun eksternal. Meskipun demikian, hal itu tidak menghalangi Donna, Nies, ataupun Bee untuk terus berkarya. Hal inilah yang membuat kelanjutan kisah mereka menjadi sangat layak untuk ditunggu.
Sayangnya, jendela maya itu kini tidak menampilkan apa-apa kecuali halaman yang itu-itu saja. Aku harus menunggu dengan sabar hingga warna-warni kembali menari, meretas jalan cerita baru tentang mereka yang telah menjadi inspiratorku. Membaca kisah ketiga perempuan yang berjuang keras dalam hidupnya membuatku dapat berharap, sedikit banyak, bahwa aku juga bisa lebih baik daripada diriku saat ini. Meskipun aku perempuan. Meskipun aku lesbian…
Aku berusaha bersabar dan menunggu. Adakah kalian menunggu bersamaku?
@Sky, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 1, 2009
Pemenang Lomba Resensi: Warna-warni Tiga Pelangi di Jalan yang Menikung Tajam
at 11:25 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
selamat ya
resensi yg menarik ;)
selamat y k' arie
sky,selamat yaa...
gw tau lo psti bs bikin resensi yg menarik dan bagus sperti ini, makanya gw terus mendorong lo bwt ikutan lomba resensi ini..
selamaaatt..
Post a Comment