Tanganku lungai menjauhkan handphone dari telinga. Pelipisku mendadak nyeri hingga tangan kirik refleks menekannya kuat-kuat menghadang agar rasa nyeri itu tidak menjalar ke seluruh kepala. Aku tidak sanggup membuka mata, kerena silau cahaya hanya membuat gambaran kenangan itu semakin jelas dan membuat rasa nyeri pelipis makin menjadi. Kupaksa kelopakmata tetap dalam keadaan terpejam. Biar gelap, biar hening, agar semua lenyap, agar semua terlupakan.
Bisakah aku hanya memilah-milih hal terbaik dari kepingan hidup untuk kuceritakan? Bukankah itu seperti menyisihkan rasa pahit dari kopi dan membiarkan aromanya?
"Pulanglah, Yuk. Sebentar saja" Ini kali ketiga dalam minggu ini Ninda menelepon. Pertama mengabarkan Mama jatuh di kamar mandi dan kakinya bengkak keseleo. Tidak ada obrolan banyak waktu itu, aku hanya mengatakan secepatnya akan mentransfer untuk biaya pengobatan Mama. Kalau perlu sekalian saja berobat ke Singapura biar pengobatannya nggak bertele-tele. Kali kedua, mengabarkan perkembangan kondisi Mama yang masih belum bisa bangun dan memintaku pulang, aku menolak.
"Apa kalau aku pulang kaki Mama akan sembuh?"
"Jangan ngomong begitu, Yuk. Nanti Ayuk menyesal" nada suaranya ditekan memperingatkanku.
"Ninda, aku sudah tidak bisa menghitung berapa banyak penyesalanku. Tapi apa semua itu bisa membuat Mama bisa mengerti keadaanku dan tidak selalu memaksakan kehendaknya? Apa Mama pernah menghitung penyesalanku? Tidak, kan? Enam tahun, Nin. Enam tahun aku nggak pulang. Toh selama itu semua baik-baik saja kan? Mama lebih bisa menghargaiku kalau aku jauh. Sedikit saja lebih dekat aku bau kotoran"
"Itu kesepakatan konyol. Mama dan Ayuk sama-sama keras kepala. Kalau sudah emosi lupa sama segala hal"
"Sudahlah. Tidak udah dibahas lagi. Kamu juga jangan terlalu mendramatisir. Lagian Mama toh hanya keseleo"
"Terserah Ayuk saja lah."
Aku merasakan kepahitan memenuhi tenggorokanku. Kepahitan karena menyimpan kebencian pada sikap perempuan yang telah melahirkanku dan membesarkanku dengan penuh perjuangan. Aku tahu Mama mencintaiku, tapi tidak berarti berhak 100% memutuskan apa yang harus aku lakukan. Apalagi memutuskan aku harus menikah dengan siapa. Itu mengerikan.
Semua ini membuatku berpikir kalau hidupku tidak akan pernah lepas dari kepahitan. Seperti rasa pahit yang tak akan mungkin terpisahkan dari kopi.
@Brownies, SepociKopi, 2009

4 comments:
Jangan sampai emosi membakar kopi itu menjadi lebih hitam dan lebih pahit lagi...
walau kopi pahit tapi masih bisa dimaniskan dengan gula dan susu
ibu tetaplah ibu
dengan sedikit kesabaran dan mengalah.."pahitnya kopi" tetap bisa terasa nikmat :)
-zoe-
tidak ada salahnya mengalah, walaupun sudah banyak penyesalan janganlah menambah penyesalan yang baru :)
kopi itu memang pahit, tapi kopi yang over blend itu lebih pahit :)
G.A
Pulang kak
your mom need u
Nb:
Miss u so much kak brow
Post a Comment