Oleh: Bolu
“Bee, kamu harus kerjasama dengan Nia untuk proyek baru nanti,” demikian kata Pak Tio dalam meeting.
Aku memandang Pak Tio, lalu Nia, lalu ke Pak Tio lagi, lalu mengangguk. Sampai sekarang aku masih tidak suka dengan mata Nia, si anak baru itu.
Nia tersenyum manis penuh percaya diri kemudia menyampaikan ide-idenya.
“Saya ingin dibuatkan businness plan-nya dalam minggu ini juga,” kata Pak Tio lagi.
Oh, man. Minggu ini berarti tiga hari lagi harus selesai. Aku memutar bola mata, sadar betul bahwa kami akan bekerja lembur.
Kembali Nia menunjukkan pendapat-pendapatnya. Tapi kali ini ia menanyakan pendapatku sebelum terus mencerocos.
Proyek ini terdiri atas lima orang. Dua lelaki dan tiga perempuan. Aku dan kolegaku yang satu lagi sudah terbiasa bekerja sama. Nia, sebagai anak baru yang penuh semangat, baru kali ini bekerja bersama kali.
Aku jadi ingat perkataan Pak Tio ketika aku menyatakan ketidaknyamananku pada Nia.
“Mungkin kamu belum terbiasa aja. Biasa kan kalau ada orang baru kita cenderung jadi menjaga wilayah kita. Beri dia waktu dan kesempatan. Give her a chance, mungkin kamu bisa suka setelah kenal...”
Mungkin inilah yang dimaksud Pak Tio agar kami lebih saling mengenal. Ya, ya. Aku tentu tidak boleh apriori terhadap seseorang hanya berdasarkan prasangka. Tidak lama kemudian, meeting selesai. Kujabat tangan Nia, lalu berkata, “Welcome to the club.”
@Bolu, SepociKopi, 2009
Friday, July 31, 2009
Welcome to The Club
Labels: #Bolu
Thursday, July 30, 2009
Secara Genetis
Oleh: Donat
Margareth duduk dengan tatapan lurus ke depan. Saya tidak berhenti berbicara sepanjang jalan, merepet seperti burung jalak. “Kamu salah lihat. Aku yakin pasti kamu salah lihat. Kemarin kamu nggak sempat memperhatikan keponakanku dengan teliti, sekarang mana mungkin bisa mengenalinya?! Kamu terburu-buru waktu itu.”
Margareth tidak terlihat bersemangat. Setelah diserbu dengan sanggahanku, tampaknya dia hendak meninggalkan topik itu segera. Gadis itu berkata pelan, “Tapi mirip kok.”
Saya masih menyerangnya. “Mirip tidak selalu berarti sama! Lagian, kamu cuma mengintip dari pintu dapur, bagaimana mungkin kamu bisa melihat anak ABG itu dengan jelas?!” Lampu lalu lintas berubah merah. Saya menghentikan mobil, tapi tidak menghentikan ocehan saya. “Semua orang kamu bilang mirip. Kamu bilang temanku mirip Ariel Peterpan. Joanna kayak Manohara. Sekarang keponakanku kamu bilang mirip dengan brondong yang bikin pasangan gay berantem. Halah!”
Margareth melengkungkan bibirnya ke bawah. “Kalau menurutku,” katanya sambil menoleh ke arah saya. “Kamu mirip Mitha The Virgin. Cuma rambutnya beda banget. Senyumnya sama. Terus hidungnya sama. Dagunya sama. Pokoknya banyak samanya, kamu mirip Mitha banget.”
Saya tertawa kecil mendengar penuturannya. Lampu lalu lintas berubah warna mejadi hijau dan mobil saya membelah kegelapan malam. Dalam hati sejujurnya saya tersengat. Apa yang terjadi apabila apa yang dikatakan Margareth benar, bahwa keponakan saya adalah gay? Saya punya lima keponakan. Lima-limanya lelaki. Lima-limanya sedang memasuki gerbang pubertas.
Kalau homoseksualitas adalah genetis, berarti keturunan saya memiliki kecenderungan menjadi gay atau lesbian. Dunia genetika modern telah berhasil memetakan gen-gen yang menentukan kepribadian, memicu kebiasaan individu, menurunkan penyakit bawaan, bahkan memberikan kecenderungan mendominasi di antara manusia. Jika manusia dites, maka manusia dapat mengetahui kemungkinan kematiannya, dengan penyakit-penyakit maut genetis yang akan membunuhnya, seperti gen Alzheimer atau gen Huntington.
Selamat datang di dunia genetika abad ini. Saya memandang jalanan yang gelap dalam keheningan. Seberapa besar kemungkinan keluarga saya memiliki gen homoseksual?
@Donat, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 29, 2009
Aku Tidak Punya Ibu
Ibu.
Sejak dapat mengeja huruf di kelas satu Sekolah Dasar, aku telah dapat merasakan makna yang tidak biasa yang tersimpan dalam kata yang terdiri dari tiga huruf tersebut.
I. Be. U. Ibu.
Selalu mengagumi kata "Ibu", dengan kata apapun dia disandingkan. Ibu Budi, ibu jari, peri, ibu pertiwi, hingga ibu kota. Aku dapat merasakan segala makna kebesaran, kelembutan dan keagungannya. Ibu Budi yang lembut dan pandai memasak (karena selalu berada di dapur), ibu jari yang paling besar dan kokoh, ibu peri yang selalu baik hati, ibu pertiwi yang agung hingga ibu kota yang megah.
Aku tidak punya Ibu.
Hanya Mama.
Tidak ada hal yang megah pada kata Mama. Kata yang sangat datar dan terasa biasa. Bahkan hampir semua bayi usia 6 bulan mampu mengucapkan kata mama sebagai ucapan pertama mereka. Ma-ma-ma-ma-ma. Mama.
Aku pernah sangat menginginkan Ibu di masa kanak-kanak. Keinginan yang membuatku memberanikan diri menyeret langkah ke pojok dapur, tempat rak-rak kayu besar berisi nampan kerupuk mentah berjejer.
Permintaan itu hampir serupa bisikan, karena diucapkan dengan ragu bercampur rasa takut.
"Aku dak galak lagi nyebutke mama. Aku nak nyebut Ibu bae."
Pelan-pelan aku mengangkat kepala yang sedari tadi memadangi ujung jari. Pandanganku menangkap raut perempuan yang wajahnya merah padam.
Lalu sesaat kemudian, bukan jawaban yang keluar dari bibir perempuan itu, melainkan nampan bundar dari anyaman bambu melayang ke mukaku menghamburkan sisa-sisa tepung tapioka ke atas kepala dan wajah, dengan hardikan yang melengking.
"Macam-macam bae! Tek aguk nian kau. Pegi angkatke kerupok yang la kering"
Aku berbalik dengan kepala yang tertunduk lebih dalam. Menyesali kebodohan yang tidak disertai pikir panjang. Tanganku mengibaskankan rambut dan wajah dari tepung yang berhamburan sambil mengibaskan keinginan memiliki ibu.
Hari itu aku yakin kata-kata "Ibu" hanya ada di buku-buku pelajaran, atau di buku-buku dongeng. Kalaupun ada di dunia nyataku, aku takut kalau-kalau dia adalah "Ibu" yang tidak pernah diinginkan anak-anak manapun. Dan aku lebih memilih hanya memiliki Mama dari pada memiliki Ibu tapi Ibu tiri.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Tuesday, July 28, 2009
Pada Sebuah Bar
Oleh: Bolu
"Gimana anak baru itu menurut kamu?" tanya Baby sambil menyeruput Mojito-nya.
"Ng, anak baru? Eh... nggak tau. Nggak akrab."
"Kalau aku sih, aku nggak terlalu suka sama dia," tiba-tiba Baby menjelaskan. "Aku nggak suka matanya."
"Memangnya matanya kenapa?" tanyaku di antara dentuman musik di Facebar. "Bisa berubah warna gitu?"
"Bee, jayus ya!"
Aku tertawa ngakak. Minuman beralkohol sering membuatku jadi kehilangan rem. Tertawa bukanlah trademark-ku, tapi kalau sudah minum, aku bakal jadi seperti The Joker.
"Mestinya Pak Tio ikut ya..." Baby melirik nakal padaku ketika bertanya. "Ke mana sih cowokmu itu, Bee?" Ia memberi penekanan berlebih pada kata cowok.
"Di rumah kali? Tidur." Padahal kutahu, Pak Tio sedang kencan dengan "pacar"nya dan nanti kalau butuh diantar pulang, aku hanya perlu meneleponnya dan dia bisa mengantarku.
Kini giliran Baby yang ngakak. "Aduh, Bee, cowok model gitu ya, mending langsung dijadiin suami deh. Kayaknya lurus bener."
Sebelum omongannya jadi membahas Pak Tio, aku buru-buru menjawab, "Belum kepikir untuk dijadiin suami. Mau dipamer di acara reuni SMA-ku bulan depan aja aku masih mikir-mikir..."
"Ada reuni nih? Wah, bisa CLBK dong," kata Baby bersemangat.
"CLBK sama siapa? Aku nggak pernah punya pacar waktu SMA."
"Tapi gebetan punya dong, Bee sayang?"
"He he he... Ada sih..." Entah dari mana aku punya keberanian untuk mengaku pada Baby.
"Ayo, cerita... sini cerita ke Baby dong..." Kutatap mata Baby yang tampak antusias bersemangat menunggu ceritaku. Dan aku pun terbujuk.
Begitulah, pada sebuah bar, dengan gelas demi gelas cocktail berganti, aku bercerita pada Baby...
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu
Monday, July 27, 2009
Shock Therapy
Oleh: Donat
Saya diam di dalam mobil sambil mendengarkan alunan lagu “Cinta Terlarang” dari radio kesayangan. Margareth terlalu lama berada di dalam restoran, belum keluar juga. Saya sudah menunggu selama lima belas menit. Ngapain sih dia di dalam? Saya mulai gelisah. Restaurant Thailand tempat Margareth bekerja sudah tutup dari setengah jam yang lalu. Lampu-lampu jalan dan ruko di bilangan Jakarta Selatan mengepung saya dalam keheningannya.
Barusan saya hendak meneleponnya, pintu samping restoran yang diperuntukkan karyawan terbuka. Margareth, tidak mengenakan seragam kokinya lagi, berjalan tergesa-gesa ke arah mobil saya. Dia membuka pintu, terenyak dengan cepat di kursi mobil, lalu membantingnya dengan cepat. “Lama amat?” tanya saya sambil mulai membelokkan mobil ke arah jalan.
“Urusan berantem tadi,” katanya terengah. “Semua jadi rame di dapur.”
“Kok begitu?”
“Gosip,” Margareth mengangkat tangan dan tersenyum kepada security yang berada di pos penjagaannya. Mobil kami berlalu dari daerah parkir. “Ternyata yang berantem itu pasangan gay. Katanya berantem rebutan pacar.”
Saya diam mendengarkan cerita Margareth.
“Sumpah, aku sampe deg-degan waktu dengerin mereka ngomongin soal cowok-cowok gay. Ada yang mengejek, tapi banyak juga yang nggak terpancing menghina kaum gay. Aku sih diam aja, no comment sama sekali.”
“Ternyata yang rebutan pacar bukan cuma lesbi doang ya?!”
Margareth seakan-akan tidak mendengar komen saya yang sinis. “Setelah dilerai security, mereka dibawa keluar restoran. Nggak lama, datang cowok lain nyariin dua orang ini. Karena yang berantem udah pergi, si cowok ini akhirnya keluar. Terus gosip jadi makin panas. Kata security, cowok itu adalah cowok brondong yang dijadiin rebutan pasangan gay itu.”
Saya terus menyetir dengan tenang. Rasanya cerita-cerita seperti ini sangat familiar di telinga saya.
“Tau nggak, Say? Cowok itu...” Margareth berhenti satu detik. “Kayaknya aku kenal. Cowok itu, cowok yang aku lihat di rumah kamu. Itu, keponakan kamu.”
Setir yang saya pegang nyaris membawa mobil terlempar ke kanan, ke pundak trotoar tempat pejalan kaki. "NGGAK SALAH?!"
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, kaget, tentang lelaki
Sunday, July 26, 2009
Batas
Oleh: Brownies
Seumur hidup baru kali ini Ninda meledak. Aku mengenalnya sebagai adik perempuan yang lemah lembut dan penurut. Dalam banyak hal, Ninda menjadi penengah antara kekeraskepalaanku dan keegoisan Mama.
Bila di masa kanak-kanak hingga remaja, aku yang menjadi pembelanya dari siapapun yang berani mengganggunya, maka setelah dewasa Ninda yang lebih sering membelaku dari tekanan Mama. Aku menganggap Ninda yang paling memahami mengapa pertengkaranku dan Mama seperti tidak berujung.
Tapi semua ada batasnya. Aku menyadari hal ini ketika hari Kamis kemarin Ninda memberikan ultimatum.
"Ingat Yuk, rahim Mama yang mengandung aku pernah juga Ayuk tempati. Juga air susu yang sama yang membesarkan kita. Kalau Ayuk selalu mengatakan Mama egois, sekarang Ayuk lah yang lebih egois. Mama sudah memberikan hak kita sebagai anak, aku dan Ayuk sama. Ayuk juga punya kewajiban yang sama untuk mengurus Mama. Ninda kecewa, Yuk, melihat Ayuk lepas tangan dari urusan Mama"
"Aku tidak lepas tangan, buktinya..."
"Maksud Ayuk, buktinya semua uang pengobatan Mama yang Ayuk tanggung?" Ninda memotong ucapanku. "Andai Mama punya segudang uang untuk membayar orang lain untuk melahirkan dan membesarkan kita, apa Ayuk pikir Mama akan melakukannya? Tidak, Yuk! Tapi kayanya Ayuk tidak akan mengerti"
"Aku mengerti!"
"Tidak akan pernah! Sampai Ayuk sendiri mengalami rasanya menjadi seorang ibu!"
Aku merasakan pedih oleh tamparan kata-kata Ninda.
"Tidak ada pilihan lain, Yuk. Dokter yang menangani pengobatan dan terapi kaki Mama pindah ke Jakarta. Hari minggu kami berangkat ke Jakarta. "
@Brownies, SepociKopi, 2009
Saturday, July 25, 2009
Uh, Baby
Oleh: Bolu
“Bee sayang,” panggil Baby dengan nada merayu.
Aku cuma melirik tipis ke arahnya.
“Bee...”
“Apa?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari layar monitor.
“Jalan yuk ntar malam,” katanya.
“Mau ke mana?” aku balas bertanya.
“Facebar yuk.”
Aku menampilkan wajah ogah-ogahan. “Ngapain?”
“Hang out aja. Kan udah lama kita nggak jalan bareng...,” Bee terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “sejak... kamu putus sama Eve...."
Kini Baby mendapat perhatian penuh dariku. Perhatian penuh amarah. “Ngapain sih sebut-sebut namanya lagi?”
“Ih, Bee, segitunya deh. Dulu cintaaaaa banget, sekarang benciiii banget.” Baby menggodaku.
“Bukan gitu, Baby... Aku nggak benci Eve kok,” tukasku buru-buru sambil menoleh ke meja kerja di sebelahku, dan kelihatan banget kuping Rina sudah siaga 1. “Nggak perlu dibahas lagi soal dia. Dia sudah masa lalu kok. And plis ya, Baby, kalo ngomong jangan kenceng-kenceng. Nanti kedengeran.”
“Kedengeran Pak Tio, maksud lo?” tanya Baby sambil cengengesan.
Aku mendelik, melotot memandangnya. “Bukan gitu, Baby,” kuberi penekanan lebih saat mengucapkan namanya.
“Bukannya kamu sekarang sama Pak Tio?” tanya Baby lagi dengan wajah tanpa dosa.
“Iya, tapi nggak usah dibahas di sini ya.... Baby, plissss....”
“Ya sudah. Nanti malam ya ceritanya, Facebar... I'm all ears... Ciao, Bee.” Baby tertawa geli dan pergi meninggalkan meja kerjaku, sementara aku hanya bisa melongo lalu nyengir.
Uh, dasar Baby!
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu
Friday, July 24, 2009
Gah!
Oleh: Donat
“Dia temanku!” Suara Margareth histeris di telepon. Tersedak beberapa kali. Saya memegang hape, berusaha menenangkan dirinya. Dia barusan saja mendapat kabar bahwa salah seorang pekerja di hotel J.W. Marriot terkena ledakan bom dan kini harus dirawat di rumah sakit. Seluruh wajahnya kena pecahan kaca sampai hancur, membutuhkan operasi plastik agar wajahnya kembali menjadi sediakala. Kalau tidak, akan ada luka permanen yang menampakkan cacat seumur hidup.
Margareth menangis tersedu-sedu. Dia bercerita tentang temannya yang dulu bekerja di restaurant tempat Margareth bekerja sebagai chef. Temannya cantik dan dipercaya oleh bos mereka, si pemilik restaurant sebagai penyambut tamu alias greeter. Saya menutup telepon dengan hati gundah gulana. Tambah lagi satu kesedihan dan air mata atas peristiwa peledakan bom pada hari Jumat kelabu itu.
Malamnya, Amel menghampiri saya, berkata, “Mbak, tadi ada tamu nyariin Mbak. Mau ketemu katanya.” Amel tampak ragu-ragu.
“Siapa?” tanya saya penasaran.
“Eh...” Amel memulai dengan sikap serba salah. “Itu, Mbak pasti kenal. Yang datang istrinya Papa Mbak.”
Tubuh saya mendingin dari kaki sampai ujung jari. “Istri yang mana?!” tanya saya ketus sambil mendelik. Alergi saya apabila mendengar kata ‘istri’ dan 'Papa' disebut-sebut!
“Ibu Ona.” Amel terdiam, mengkerut ketakutan melihat bola mata saya bersinar-sinar seperti mau meledak. Saya kenal nama yang disebut Amel. Ya, siapa yang tidak kenal? Ona adalah istri ketiga ayah saya. Ngapain dia mencari saya?
Barusan saya mau bertanya kepada Amel apa Bu Ona menitip pesan, tiba-tiba hape saya bergetar. Lagi-lagi Margareth! Saya belum mengucapkan halo, karena tiba-tiba Margareth sudah menjerit di telepon dengan nada panik, “Say! Say! Say! Ada yang berantem di restaurantku. Gebuk-gebukan. Banting-banting barang. Wah, security datang nih. Aku belum bisa pulang.”
@Donat, SepociKopi, 2009
Thursday, July 23, 2009
Bau Menyengat
Oleh: Brownies
Aku sudah lama menunggu long weekend seperti kemarin. Dengan mengambil cuti satu hari, aku dapat menikmati libur dari Jumat hingga Senin. Berjanji dengan Bianca, empat hari penuh menjadi milik kami. Tidak ada alasan kerja dan urusan bisnis. Aku juga berharap ini waktu yang tepat untuk memiliki malam spesial dengan Bianca. Sejak aku dan Bianca berkomitmen menjalani hubungan ini, belum sekali pun berhasil mengajaknya menginap di rumahku. Tidak peduli selarut apa kami selesai bercinta, ia akan tetap bersikeras minta diantar pulang. Ada saja alasannya yang tidak bisa kutolak.
Hari Jumat, pagi-pagi sekali Bianca sudah datang membawakan sarapan. Sambil menikmati lontong sayur yang masih hangat, aku kembali menyampaikan keinginanku agar Bianca tidur di rumahku saja, namun kembali dia menolak. Lalu kugoda dia, menyebutnya Cinderella Abad 21. Akibatnya Bianca cemberut sejadi-jadinya.
"Lagian kenapa sih, Sayang?" Aku merangkul dan mengecup pelipisnya.
"Rumah lo masih ada bau Hanny dan Ai," katanya dengan hidung mengerut, seolah menegaskan dia memang benar-benar mencium bau menyengat.
"Bau?!" tanyaku heran sambil memutar otak ke mana arah pembicaraan ini.
"Iya. Bau!"
"Aku nggak mencium bau apa-apa." sergahku tidak terima. Beberapa benda-benda kecil milik Hanny atau Ai memang masih tertinggal di rumah ini. Tapi semua tersimpan di lemari dan aku tidak percaya benda seperti karet rambut atau blush on menyebarkan bau menyengat.
"Karena lo sudah biasa, Beib."
Aku menghela napas. Ah, semakin banyak saja hal-hal aneh dan nggak jelas yang harus kutelan bulat-bulat dari Bianca. Dan tidak ada yang lebih aneh dari urusan bau-bauan ini. "Oke. Kalau begitu, bau apa yang ingin kamu hindarkan dari penciumanku?"
"Bau?! Menghindar?! Maksud lo apa, Beib?"
"Kenapa aku juga tidak boleh menginap di rumah kamu?"
Sesaat ekspresinya menegang. "Jangan macam-macam deh, Beib. Lo tau sendiri kan, gue bukan orang yang mudah bawa perempuan ke rumah gue," katanya santai.
Dugh! Semudah itu dia membuatku tak berkutik. Menelan potongan lontong sayur seperti menelan bongkahan batu. Hingga akhirnya Bik Ohim datang tergopoh-gopoh, menyelamatkan dari situasi yang beku. "Neng Enis, Neng Enis. Ada Bom. Ada Bom. Di tipi ada bom"
@Brownies, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 22, 2009
Wajah Masa Lalu
Oleh: Bolu
Sejak adanya Facebook, aku sudah diundang paling tidak tiga kali reuni. Untuk almamater SMP, SMA, dan Universitas. Teman-teman lama yang sudah kulupa kini tiba-tiba muncul dalam nama yang sama bahkan berbeda. Teman-teman lama yang selalu kuingat, tapi ada saja yang sering kali terlupa. Teman-teman lama yang mengajak ngobrol untuk mengenang masa lalu.
Bertemu kembali teman-teman lama seringnya penuh rasa kegembiraan. Ada jejak melankolia yang susah dilukiskan dalam kata-kata. Ikatan yang nyaris putus disambung lagi dalam usia, situasi, dan kondisi yang berbeda. Apa yang dulu masih menggantung, mungkin akan mendapat jawabannya sekarang. A closure. Menjawab semua rasa penasaran.
Di antara semua wajah masa lalu aku belum menemukan wajah yang kucari. Sudah ku-search dan kutanyakan ke beberapa sahabat tentang dirinya, tapi tak ada yang tahu di mana, apa, dan bagaimana kabarnya. Dia bagai hilang lenyap disergap udara. Delapan tahun sudah berlalu tanpa kabar berita atau informasi apa pun.
Pernahkah kamu mengalami seperti yang kualami? Mengubek-ubek masa lalu, ingin menemukan seseorang di masa lalu. Setelah itu, setelah ditemukan, melakukan apa? Mengobrol? Bertemu? Atau bagaimana kalau dia tidak seperti yang kita bayangkan? Entah, aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau aku berhasil menemukannya.
Coretan-coretan di wall menanyai kabar status terbaru. Single? Cowok-cowok yang beberapa kali menunjukkan isyarat tertarik dengan menanggapi update status-ku. Bahkan ada yang mengirim pesan menanyakan kabar secara khusus meminta nomor hape. Banyak yang saling meng-add setelah mengetahui keberadaanku. Tidak lelah, kuteliti foto-foto masa lalu yang berseliweran sana kemari hasil saling men-tag.
Tapi dia tidak ada.
@Bolu, SepociKopi,
Tuesday, July 21, 2009
Pencuri Hati
Oleh: Donat
Melihatnya dari jauh membuat jantung saya berdebar. Dia bergerak ke sana kemari, menguasai ruangan yang berukuran tidak terlalu besar. Seakan-akan ruangan itu adalah singgasana kerajaannya dan siapa pun yang memasuki daerah kekuasaan, mau tidak mau harus menunduk, merasakan aura kekuasaan itu. Wangi manis tapi sedikit keras menguar melalui pori-pori lantai dan tembok, membuat seluruh ruangan itu berjiwa.
Saya mengawasi Margareth memasak makanan.
“Aku koki. Kamu penulis,” katanya, menunjuk dadanya, lalu menunjuk diri saya. “Aku menciptakan resep dan makanan. Kamu menghasilkan karya visual dan skenario. Sebenarnya kita mirip.”
Saya pernah ingin memintanya memasak untuk saya, tapi saya tidak keburu memintanya karena dia telah melakukannya dengan sukarela. Seorang koki atau chef pasti tidak keberatan memasak untuk orang yang dicintainya, seperti seorang penulis skenario -- seperti saya -- menuliskan sosok dirinya dalam tokoh-tokoh yang muncul di sinetron.
“Dia itu aku?” tanya Margareth suatu hari ketika kami berdua sedang menonton sinetron yang skenarionya saya tulis. “Serius?”
Melihat dari jauh membuat saya ingin mendekat, memandanginya dari dekat. Dia masih bergerak ke sana kemari, menjadi ratu di dapur yang saya serahkan keberadaannya kepadanya. Deretan botol dijejernya dengan rapi. Dia bekerja dengan konsisten dan teratur. Memasak, katanya dengan penuh perasaan, harus memiliki tingkat kedisplinan yang tinggi tapi juga kelenturan untuk berkreasi.
“Sudah kelar?” tanya saya. "Hmm... wangi sekali."
“Sebentar lagi.”
Saya berjalan ke sampingnya, memandang keasyikan dia berkutat dengan dunianya. Saya seperti orang asing yang duduk di pinggir jalan, tidak menjadi bagian dari panggung yang riuh rendah. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti kata hati. Tidak ada yang bisa melarang saya sekarang. Wajah miring ke sebelah kanan, cepat-cepat mencuri cium pipinya dengan gerakan kilat tapi mesra.
@Donat, SepociKopi, 2009
Monday, July 20, 2009
Laut Yang Mengitimidasi
Oleh: Brownies
Sebenarnya aku tidak begitu menyukai laut, terlebih di waktu malam. Kegelapannya yang pekat, luasnya yang seolah tak berbatas, bahkan deburan ombaknya terasa mengintimidasi. Tidak seperti Sungai Musi, bentangannya tidak begitu luas, masih bisa memandang deretan rumah di tepi seberang, memandangi alirannya hingga ke hilir masih bisa menemukan titik di ujung sana. Aku mencintai Sungai Musi siang dan malam.
Tapi meski begitu, aku tetap menghargai pendapat Bianca. "Makan malam paling romantis itu di tepi pantai, Beib," katanya berapi-api ketika kami melangkah menuju resto yang dibangun menjorok ke tengah laut. "Lihat saja, jutaan orang dari seluruh dunia mengunjungi Bali hanya untuk menikmati romantisnya makan malam di tepi pantai. Nanti kita berdua musti ke Bali, Beib! Tapi sekarang, kita nikmati pantai Ancol dulu deh." Aku mengangguk-angguk menutupi rasa tidak nyaman akan embusan angin yang lengket dan berbau amis khas laut.
Embusan angin laut dingin menerpa wajah. Lampu-lampu nelayan bekerlip lirih di kejauhan menjadi latar belakang Bianca yang sedang serius membolak-balik daftar menu. Memandanginya dalam diam membuat kenangan tepi Sungai Musi melintas lagi, dengan sekuat tenaga kuhalau cepat-cepat dan kulemparkan jauh ke tengah lautan. Ini malam milikku dengan Bibiy.
Bianca mengangkat wajahnya yang berkerut serius, "Ayo dong, Beib, lo mau makan apa nih?" Ia lalu menyodorkan daftar menu yang telah sepuluh menit berada di tangan kami.
Sejak insiden lampu merah di tengah perjalanan menuju Ancol, aku tidak saja nyaris kehilangan jantung, tapi juga telah kehilangan selera makan. Mungkin lebih baik memesan minuman hangat saja. Tapi baru saja membalik daftar menu ke bagian Beverages, Bianca seperti bisa membaca pikiranku.
"Beib, jangan bilang lo cuma pengen minum aja! Bisa-bisa gue meledak seperti lo ngamuk ke Hanny waktu di Pulau Dua," katanya dengan pandangan tajam. Tidak bercanda. Ia serius.
Ucapan dan pandangannya yang tajam seperti menjejalkan bentangan laut yang menggelora ke dalam tubuhku.
Ujung kakiku dingin.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Labels: #Brownies, bad mood, Jakarta, relationship
Sunday, July 19, 2009
Ledakan Hati
Oleh: Bolu
Hari itu seharusnya aku dan Pak Tio dijawalkan breakfast meeting ke daerah Kuningan. Jam 8.30 pagi.
Guncangan ledakan itu terasa bukan dengan getaran yang menggoyahkan bangunan. Telepon berdering. SMS bertubi-tubi masuk. Jaringan internet di kantor sempat down semakin menambah kepanikan karena sulit mengakses situs berita. Layar televisi di ruang resepsionis kantor menampilkan gambar-gambar menyedihkan tentang petaka yang ditimbulkan akibat kebiadaban manusia.
Di luar, jendela kantorku yang mengarah ke Ritz Carlton memperlihatkan asap samar. Tidak terlalu kentara sebagai asap ledakan bom. Bisa jadi asap akibat ledakan kompor gas. Tapi asap itu adalah lambang dari kekejian manusia terhadapnya sesamanya.
Beragam komentar pun terdengar saat kami dengan tegang menonton televisi. Kejam. Sadis. Jahat. Pengecut. Biadab.
Memikirkan betapa dekatnya kita ke ambang maut terkadang membuat kita bisa menyusun prioritas dalam hidup. Pak Tio bahkan sempat meremas bahuku di dalam lift ketika perusahaan memutuskan untuk memulangkan karyawannnya lebih cepat hari itu.
"Untung kita belum berangkat meeting dan tidak berada di dekat sana waktu bom meledak ya," kata Pak Tio. Entah ingin menghibur atau malah membuatku jadi berpikir betapa nyarisnya nasib kami. Tapi bukankah itu hidup? Kita tidak pernah tahu kapan hari kita nyaris berhadapan dengan maut, sampai maut itu menjemput.
Aku tersenyum memandang Pak Tio yang mengantarku pulang. Kugenggam tangan kirinya yang berada di persneling saat kami berada di mobil. "Terima kasih ya."
"Kenapa? Aku nggak keberatan nganter kamu pulang."
"Ngg... bukan. Bukan soal itu."
Pak Tio menoleh sedetik memandangku. Tiba-tiba aku jadi merasa malu.
"Terima kasih ya, Pak.... Karena... Bapak sudah menjadi orang yang selalu ada saat aku butuh...."
Pak Tio membuka mulut untuk menjawab, tapi segera kupotong, karena aku tidak mau kehilangan fokus dan keberanianku untuk bicara. "Mungkin egois ya kedengarannya, Pak? Tapi itulah arti Bapak buatku."
Sambil tetap menatap jalanan, Pak Tio tersenyum lalu menjawab, "Tidak egois kok, Bee.... Kamu juga. Kamu juga berarti buatku, Bee. Lebih dari yang kamu tahu."
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu
Saturday, July 18, 2009
Sehari di Hari Ini
Oleh: Donat
Saya pulang ke rumah dengan penampilan kusut dan letih. Kejar tayang sinetron Ramadhan benar-benar menguras tenaga dan menambang gunung kreativitas milik saya. Tiap hari saya harus siap siaga mengisi kekosongan adegan yang tidak cocok dengan pihak-pihak lainnya, baik produser atau sutradara. Penulis naskah televisi memang harus berkompromi dengan banyak manusia. Kadang-kadang saya benar-benar buntu! Saya tidak tahu lagi bagaimana memenuhi tuntutan kerja lagi. Dan inilah hari sial itu, hari sial yang membuat saya sering berpikir-pikir ulang untuk mengganti mata pencaharian utama saya.
"Mbak," panggil Amel, "Makan dulu. Kenapa pulang malam sekali? Sini Amel isiin piringnya."
Saya memberikan piring kepada Amel. Sambil sedikit terharu pada perhatian Amel yang tak putus. Tatapan berhenti pada makanan yang tersaji di depan mata.
"Nggak salah?" Saya terheran-heran. "Banyak amat makanannya?"
Amel tersenyum malu-malu. Pipinya merona merah. Dia mengembalikan piring saya yang telah diisi nasi.
"Sebenarnya..." Dia ragu-ragu mengucapkan. "Amel u-ulang tahun hari ini."
Saya terlonjak. Hah? Sungguh? Saya lupa atau nggak tahu ya? Dalam lima detik, otak saya berputar cepat. Mati aja kalau ternyata Amel pernah memberitahu tanggal ultahnya dan saya lupa total!
"Nggak apa-apa kok, Mbak, Amel emang nggak cerita-cerita sama siapa-siapa termasuk Mbak biar nggak bikin heboh," katanya sambil tersenyum tersipu.
Saya langsung bangkit berdiri dari kursi, menghambur ke gadis itu. Wangi tubuhnya yang manis menyengat hidung saya. Saya selalu suka dengan wanginya. "Selamat ulang tahun ya, Mel," kata saya, agak ragu-ragu mengecup pipinya. "Aku sebenarnya punya kado buat kamu."
"Apa, Mbak?"
Saya memeluk Amel lagi. "Cari sekolah yang cocok buat kamu," bisik saya. "Nanti Mbak bayarin uang kuliahnya sampai kamu lulus."
Tubuh Amel kaku dalam pelukan saya.
@Donat, SepociKopi, 2009
Friday, July 17, 2009
Kenapa Belok? Lurus Saja!
"Biy..." Aku menggumam khawatir di sela desisan gairah Bianca. Leherku terpelintir tidak keruan. Bibirku monyong ke kiri dalam kekuasaan Bianca yang terus beraksi, sementara pandanganku menukik 90 derajat ke arah kanan harus tetap mengawasi lampu merah dan keadaan di depan. Urat mata seperti mau putus! (Tidak percaya? coba kalau berani)
"Hm..." Tangannya semakin kuat menahan wajahku agar tetap menghadap wajahnya.
"Biy... seben..." Aku terus mencoba melepaskan diri dari sergapan Bianca.
Tapi Bianca tidak menggubrisku. Beberapa detik lagi lampu hijau akan menyala. Aku mulai panik. Tidak ada kesempatan untuk menjelaskan.
Tangan kiriku langsung menarik tuas persneling. Dan, wusssh, mesin meraung. Saat aku membanting setir berbelok ke kiri, ke Jalan Jayakarta, tubuhku baru benar-benar terlepas dari Bianca, setelah sebelumya kami menjadi kembar siam, dempet di bagian bibir.
"Kok lo belok ke sini sih, Beib?" katanya tanpa rasa bersalah setelah menyadari posisi mobil sudah menyimpang dari arah tujuan. "Kita kan tinggal lurus aja kalau mau ke Ancol."
"Lurus. Lurus gimana?" tukasku sewot. Aksi Bianca bikin jantungku nyaris melorot hingga mata kaki. "Apa kamu nggak lihat ada polisi di depan kita yang siap nyegat?"
"Gue nggak lihat. Emang ada?"
"Terang aja nggak lihat, bibir kamu lagi nyosor!"
"Ha ha ha, lo penakut amat sih, Beib, kita kan nggak ngelanggar lampu merah."
Ugh. Keras kepala!
"Iya, tapi tuh polisi sudah senyum-senyum dan siap menyegat kalau kita lurus. Bukan mau memeriksa surat-surat, dia pasti ingin kenalan dengan perempuan yang nekat nyosor bibir pacar perempuannya di lampu merah!" Gantian aku yang sewot.
"Ha ha ha ha. Ha ha ha ha!"
Bianca tertawa terpingkal-pingkal. Sampai ia mengusap matanya yang berair karena tertawa geli.
Sementara aku susah payah menenangkan degup jantung dengan pikiran yang benar-benar buntu tidak tau lagi arah menuju Ancol.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Thursday, July 16, 2009
Laut Biru
Oleh: Bolu
Beberapa orang bergegas mencari band-aids penutup luka. Darah yang mengalir sebenarnya tidak banyak, tapi rasanya pasti sakit teriris seperti itu. Aku meringis ngilu memandang luka sayatan kertas di jari. Baby mengulum jari telunjuknya menahan darah dan rasa nyeri hingga band-aids tiba.
Sama seperti kehebohan awalnya. Teman-teman di kantor pun segera bubar ketika luka di jari yang tersayat itu sudah tertutup plester. Dan aku? Aku melempar kartu undangan yang dari tadi kupegangi ke ujung meja dengan perasaan tak menentu, lalu kembali menghadap layar monitor.
"Bee."
Ada yang menyapaku di kotak chatbox YM.
"Hai Eve."
"Sibuk nggak?"
"Lumayan."
"Aku nggak ganggu deh."
"Lain kali ya. Bye."
Buru-buru aku mematikan YM. Sejak Yahoo! mail yang baru dengan otomatis login ke YM aku sering terlambat mematikan YM. Akibatnya seperti tadi, keburu dipanggil Eve padahal hari ini pekerjaanku bertumpuk. Tidak mungkin aku enak-enakan chatting.
Bahkan untuk melamunkan Danielle pun sebenarnya aku tak sempat.
Mendadak muncul sengatan nyeri seperti teriris kertas. Bukan di jariku, tapi di hatiku. Rasa perih yang belum sembuh. Luka yang timbul setiap kali Eve menyergap masuk ke dalamnya. Ah, seandainya saja luka itu bisa seperti luka irisan di jari yang hanya perlu diberi Betadine dan plester.
Seandainya aku bisa membalut hatiku dengan band-aids. Dia pasti tak akan berdarah-darah lagi. Aku melanjutkan pekerjaan tanpa menunda-nunda, tapi sebenarnya hatiku sedang karam ke dalam lautan melodrama yang biru dan senyap.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 15, 2009
Seperti Cinderella
Oleh: Donat
Permainan sembunyi-sembunyi pun dilakukan. Saya malas mendengar Mbak Nani mengoceh kalau melihat Margareth di rumah bersama saya. Apalagi dia datang bersama anak lelakinya yang berusia 18 tahun. Muka mau ditaruh di mana coba, diomelin di depan seorang anak remaja? Saya langsung berbisik-bisik kepada Margereth, membuat rencana.
"Udah, cepat lakukan saja!" tegas saya waktu lihat air muka Margareth memucat.
Pantasnya adegan ini diiringi musik ala action thriller.
“Mbak, coba tolong ajarin cara masak ayam kecap Inggris, dong,” kata saya sok manja, mencari cara mengalihkan perhatian kakak sulung saya. Saya keluarkan ayam beku dari dalam kulkas dan memanggil-manggil Mbak Nani dengan cara yang terdengar mendesak seakan-akan kepentingan seluruh dunia berada di menu ayam kecap Inggris.
Begitu Mbak Nani berjalan memunggungi ruang tamu, Margareth mengendap-endap keluar dari kamar tidur, langsung ngibrit ke teras dengan tas ranselnya. Saya berdiri di dapur dengan tegang, berusaha berkonsentrasi kepada penjelasan Mbak Nani, padahal mata saya melirik-lirik ke arah pintu depan.
Beberapa jam kemudian, setelah Mbak Nani pulang, saya dan Margareth tertawa di telepon waktu mendiskusikan kejadian tadi. “Tapi Say,...” kata Margareth di tengah tawanya. “...tetap ketahuan juga...”
Saya masih tertawa-tawa, nyaris tersedak mendengarnya. "Hah, ketahuan siapa?"
“Itu... keponakanmu... Dia lagi di teras. Dia ngeliat aku kabur begitu aja tanpa pamit. Dia kira aku pencuri kali ya... hahahaha....”
Saya mengerem tawa saya. Sumpah, saya nggak merasa lucu. “Terus? Latief bilang apa?"
“Nggak bilang apa-apa. Aku juga nggak sempat bilang apa-apa. Aku kabur secepat-cepatnya!”
Saya membayangkan keponakan saya yang pasti heran melihat seorang perempuan ngibrit dari dalam rumah.
“Oya, Say,” kata Margareth memecahkan perhatian saya lagi. “Tadi saking terburu-burunya, aku lupa pake sendal. Begitu nginjak trotoar, aku baru sadar sendalku ketinggalan di dapur. Mau balik lagi ke rumah nggak enak sama keponakanmu. Aku tebel-tebelin muka aja. Kupanggil bajaj dan nawar sekenanya. Aku naik bajaj tanpa alas kaki. Kayak Cinderella deh..."
Hati saya mencair mendengar tawa Margareth di ujung telepon. Saya ingin memeluknya dan mengusap-usap kepalanya saat itu juga. "Nah, Cinderella-ku," kata saya sambil tersenyum. "Kapan Pangeran dapat bertemu dengan putri buat menyerahkan sendalnya kembali?"
@Donat, SepociKopi, 2009
Tuesday, July 14, 2009
Lampu Merah
Oh ya, aku dan Bibiy eh Bianca sedang mabuk asmara. Pengennya berdua ke mana-mana. Tapi karena masing-masing punya kesibukan hanya weekend waktu untuk mengobati rasa kangen. Malam minggu ini Bianca mengajakku untuk makan malam romantis, tapi dia bersikeras tidak mau ke resto yang pernah kudatangi dengan Hanny.
"Gimana kalau ke Le Bridge? Tau, Beib?" tanya Bibiy sambil mengelus tengkukku, meninggalkan sensasi geli-geli merinding.
"Pernah dengar sih."
"Tapi tau nggak? Pernah ke sana nggak?"
"Belum pernah."
"Oke, kita ke sana."
"Iya, tapi ke mana?"
"Ya ampun, Beib. Begini nih kalau kepala lo cuma diisi ama resto remang-remang Melawai, sampai Le Bridge aja nggak tau."
"Jangan mulai deh. Ayo, cepetan bilang ke arah mana?" desakku.
"Ancol, Beib! Ancol! Gile nih, mimpi apa gue punya pacar kaya lo, Beib?"
"Ha ha ha... Salah sendiri, kamu yang mau dan milih sendiri kok!"
"Jadi lo nggak mau, gitu?" Nada suaranya langsung berubah.
"Bukan begitu, Bibiy."
Tapi Bianca kepalang ngambek. Atau pura-pura ngambek. Masa sih hanya gara-gara begitu, dia jadi senewen.
"Hei, mana nih Bianca-ku yang tegas dan tau apa yang dia mau. Ternyata cengeng juga ya. Aku tulis di blog ah."
"Eh, eh... jangan! Awas, kalau berani nulis macam-macam!" Tangannya mencubit pinggangku.
Biar cubitannya sakit tapi rasanya enak, akhirnya suasana bisa mencair. Dia mulai mengobrol asyik saat mobil yang kami tumpangi memasuki jalan Gunung Sahari.
Aku menambah kecepatan bermaksud menghindari lampu merah di depan, tapi ternyata tidak keburu.
Ban mobil mendecit dan berhenti pas di belakang zebra cross, mungkin lebih sedikit.
Tiba-tiba Bianca menyentak kepalaku dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi Bianca telah melumat bibirku tanpa sempat aku mengelak.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Monday, July 13, 2009
Danielle
Oleh: Bolu
Tangannya bergerak perlahan, menyelipkan rambut di telinga. Aku meliriknya dari balik bulu mataku. Melihatnya tanpa ingin ketahuan olehnya bahwa aku diam-diam memperhatikannya.
Berapa kali dalam seumur hidup manusia jatuh cinta dengan manusia lain? Rasanya aku mengalami jatuh cinta hanya sekali seumur hidupku sewaktu aku melihat Danielle. Masa depan dan masa lalu melebur, tanpa arti. Inilah buktinya kalau aku benar-benar terisap ke dalam lubang jatuh cinta: Tangan berkeringat padahal tidak mengalami lemah jantung. Jantung bergerak lebih cepat padahal tidak sedang berlari. Waktu berhenti padahal itu tidak mungkin.
Seberapa sering manusia memandang senyum manusia lain dan langsung terpeleset seperti menginjak plastik di jalan? Diam-diam aku ingin senyumnya adalah aku yang menjadi objek dirinya di antara kilasan-kilasan peristiwa di depan matanya. Aku terpukau, terpesona dalam keberadaan dirinya yang bak magnet. Di mana pun dia berada, aku juga ingin berada di sana.
Hari ini kantor sibuk sekali, padahal aku masih ingin melamun lebih panjang. Telepon berdering tanpa henti, email bertubi-tubi masuk, deadline pekerjaan semakin mendekat seperti makhluk buas yang siap menerkamku hidup-hidup. Bahkan Baby yang biasanya santai tampak tegang.
Aku menjawab beberapa email kantor dengan hati-hati, menelitinya dengan baik, sebelum menekan tombol send. Setelah empat jam tidak sempat minum dan mengendurkan urat syaraf, aku memutuskan untuk mengecek email pribadiku. Klik sana klik sini. Ada beberapa surat dari teman-teman. Aku tersenyum lebar membaca email-email yang masuk di milis sekolahku yang dulu.
"Bee..."
Suara itu, aku tersentak dari pandanganku di monitor komputer. Aku menoleh sambil memegangi kartu undangan yang sudah beberapa minggu berada di atas mejaku.
"Di daerah sini, ada yang jual band-aids? Tanganku berdarah teriris kertas."
@Bolu, SepociKopi, 2009
Sunday, July 12, 2009
(Maunya) Living Together
Oleh: Donat
Menjadi lesbian susahnya setengah mati. Selain kena urusan masalah percintaan yang sepertinya nggak habis-habis, berikutnya adalah urusan usaha menggapai kebahagiaan. Semua orang ingin bahagia, iya nggak sih? Tapi di mana takaran kebahagiaan bagi masing-masing orang? Urusan ranjang yang kedengaran sepele menjadi masalah keributan bagi saya dan Margareth. Temanya jelas sebenarnya: kesiapan kami untuk living together
“Aku nggak boleh tinggal di sini?”
“Boleh, eh... nggak,” kata saya. “Eh, bukan begitu maksudku. Nanti Amel bingung ngeliat kamu tidur sama aku.”
“Biarin aja. Kenapa mikirin Amel sih!” Mulut Margareth merengut. “Lagian, ini kan rumahmu. Kamu boleh mengajak menginap siapa saja yang kamu mau.”
“Iya, iya deh," kata saya. "Tapi kalau Mbak Nani datang, aku susah menjelaskan keberadaan kamu di sini.”
Margareth mendesah. “Dulu, katamu aku nggak bisa menginap karena ada Mama. Sekarang, kamu menyebut-nyebut Mbak Nani. Dia kan nggak tinggal di sini.”
Saya menghela napas. Sudah dua malam Margareth menginap di rumah menghabiskan wiken bersama-sama. Memang menyenangkan hidup berdua ditambah Amel yang tukang sibuk, rumah tak terasa sepi lagi. Tapi terus terang, saya mulai merasa nggak enak. Saya tidak mau Mbak Nani memergoki Margareth tinggal di sini.
Saya mengulet ke samping Margareth. Lagi bermalas-malasan di hari Minggu pagi di atas ranjang, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Saya melompat cepat, menuju ke ruang depan. Perasaan mulai nggak enak. Siapa sih yang datang di hari Minggu? Di depan, saya melihat Mbak Nani sedang berdiri di balik pagar. Bersama anaknya pula! Jantung saya mencelos seketika. Alamak...
@Donat, SepociKopi, 2009
Saturday, July 11, 2009
Tidak Ingin Tau
Oleh: Brownies
"Beib, gue mau ajak Evan jalan-jalan."
"Evan?"
"Lo kebangetan deh, Beib. Kalau lo lupa!" Matanya mendelik tajam.
Aduh, judesnya kekasihku ini. Sampai detik ini aku masih sering jantungan menghadapi gaya bicaranya yang berbeda 180 derajat dengan Hanny yang selalu bicara dengan lemah lembut. Memang tidak sepatutnya aku membandingkan mereka. Tapi mau tidak mau, perbandingan itu muncul begitu saja di kepalaku seperti terpapar dalam sebuah tabel lengkap dengan grafiknya.
Meski di awal ketika intens berkomunikasi lewat telepon kejudesan tidak begitu kentara karena tulisannya jauh lebih tajam, tapi setelah mengenalnya lebih jauh aku semakin mengerti memang begitulah karakternya, blak-blakan tidak suka basa-basi dan terkesan ketus. Lihat saja, dia masih tetap ber"Elo-Gue", meski sekarang sudah diembel-embeli sebutan "Beib".
Kalau tidak mau disembur dengan lidah naganya, aku musti mengingat-ingat Evan. Evan siapa ya? Ponakannya?! Bukan.
Oh, Tuhan... Aku ingat!
"Evan, anak laki-laki yang kamu ajak waktu ketemuan di Museum Fatahillah dulu?!"
"Iya. Tuh lo ingat."
"Nyaris lupa. Aku lebih ingat sama perempuan yang menggandengnya." Aku tersenyum menggodanya, tersenyum lega juga karena tebakanku tidak salah.
"Nggak heran, deh." Dia mencibir sambil menyendokkan potongan ikan ke piringku. "Elo kok nggak pengen tau soal Evan sih, Beib?" Dia mencondongkan kepalanya menatap ekspresiku.
"Hm, tidak. Kecuali kamu ingin menceritakannya," jawabku dengan santai.
Gantian aku memerhatikannya menarik napas sambil terus menikmati makan siangnya. Aku menunggu kelanjutan ucapannya, cerita tentang Evan yang mungkin menurut dia aku perlu tau.
"Ya, syukur deh kalau gitu. "
Hanya itu yang dia ucapkan, kalimat yang menggantung, sebelum akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Friday, July 10, 2009
Lamunan Malam
Oleh: Bolu
Tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ally menangis semalaman nggak mau berhenti. Katanya sih kembung. Aku jadi ikutan terbangun jam dua pagi. Tidak bisa tidur lagi, aku membuka internet dan mengecek Facebook-ku. Aku masuk ke Yahoo! Messenger. Tidak banyak orang yang online pada dinihari seperti ini. Tapi satu nama mengusik perhatianku. Eve.
Ngapain dia online malam-malam begini? Buru-buru aku mengklik ikon invisible agar tidak terlihat olehnya? Sebuah tindakan yang lebih karena ge-er, sepertinya. Belum tentu dia melihatku. Sudah dua bulan sejak kontak terakhir kami. Kadang-kadang aku teringat pada Eve, tapi tak sekali pun aku pernah berkomunikasi dengannya.
Kagok rasanya kalau harus bicara dengan Eve. Dan kurasa basa-basi nggak ada gunanya lagi. Aku bukan tipe yang bisa berteman dengan mantan. Aku nggak peduli sama apa yang terjadi dalam hidupnya. Sama siapa dia sekarang. Bagaimana hidupnya sejak tidak bersamaku lagi. Nggak penting dan nggak mau tau. Life goes on there's no use to look back...
Saat sedang browsing sambil melamun, tiba-tiba muncul chatbox YM dari Eve:
"Hai Bee."
Tanganku bergerak pelan. Bingung. Seakan-akan kukuku terbuat dari besi seberat sepuluh kilogram. Pertanyaan berputar-putar di benakku, mengapa dia menyapaku?
"Hai Eve."
Jam dua pagi, diselimuti keraguan, berjuang dengan egoku, menghadapi masa lalu sambil mendengar suara Ally yang menangis kencang sebagai latar belakang. Great, it's just great.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu
Thursday, July 9, 2009
Tentang Amel
Oleh: Donat
Pulang dari wawancara, waktu telah mendekati Dzuhur. Kepala saya pusing, malas ke kantor. Keadaan di sana pasti kosong karena orang-orang telah pergi makan siang. Saya memutuskan pulang ke rumah dulu untuk makan siang bersama Amel.
Waktu saya pulang, rumah dalam keadaan sepi. Saya melewati ruang makan, memasuki dapur, dan terkejut melihat Amel sedang berdiri di tangga membongkar langit-langit dapur.
"Mel!" seru saya heran. "Sedang ngapain di sana?"
Amel menurunkan kepalanya sehingga rambutnya terayun-ayun ke bawah. "Mau pasang perangkap tikus, Mbak. Ada tikus gede di dapur. Hiiih!" Dia bergidik, lalu melanjutkan kesibukannya di atas.
Di dapur, justru saya yang panik. "Mel!" teriak saya lagi. "Hati-hati. Memangnya nggak bisa pasang perangkap di sini aja?"
"Otak tikus ini canggih, Mbak. Kalau perangkapnya cuma ditaruh di sana sih mendingan nggak usah sebab udah beberapa kali dia berhasil menghindar. Udah, biarin Amel pasang di sini aja. Ini perangkap baru ketiga yang Amel beli di pasar."
Amel mengangkat tubuhnya sehingga tangannya dapat mendorong perangkap tikus jauh ke balik eternit. Saya menahan napas. Amel terpeleset sedikit, tangga berderak kencang. Saya menjerit, buru-buru memegangi tangga agar tidak terjatuh ke lantai. Setelah selesai dengan tugasnya, Amel menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Begitu menjejak lantai, dia menatap saya sambil nyengir lebar.
"Udah beres, Mbak." Dia mencubit lengan saya. "Mbak? Mbak? Jangan bengong begitu ah!"
"Bengong?!" tukas saya bersungut-sungut. "Tadi kalau kamu jatuh, aku bakalan marah-marah, nggak bakal ada rasa kasihan. Lain kali nggak usah melakukan aksi akrobat di rumah ini!"
"Ahh, Mbakku yang manis, jangan marah-marah, nanti nggak cakep lagi."
Saya melengos kesal. Amel bergelayut di pundak saya, bermanja-manja sambil berusaha menghibur. Saya memegangi tubuhnya agar kami tidak sama-sama terjatuh.
Oiya belum saya beritahu ya? Kaki Amel kecil sebelah. Dia kena polio sewaktu berusia tiga tahun.
@Donat, SepociKopi, 2009
Wednesday, July 8, 2009
Pilihan
Aku mendapati diriku duduk di antara deretan orang-orang yang menunggu antrian untuk menyerahkan "suaranya". Tempat ini dipenuhi aura nasionalisme yang begitu kental. Sekali dalam lima tahun, sebagai masyarakat biasa kami mendapat tempat dan perlakuan yang istimewa. Triliunan rupiah digelontorkan untuk mendengar suara kami yang selama ini tidak didengarkan. Bahkan suara kami rakyat biasa ini digembar-gemborkan akan menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.
Melirik ibu-ibu disebelah, berbisik-bisik menanyakan pendapat ibu yang duduk di sebelah kanannya, mengeluhkan kebimbanga tentang siapa yang akan dipilih. Aku tersenyum menelan ludah. Kita sama, Bu.
Manusia dengan tingkat ke plin-planan tinggi seperti aku, selalu bermasalah dengan pilihan. Hingga menit-menit terakhir pun aku belum bisa memutuskan akan memilih siapa.
Dalam memutuskan pilihan-pilihan hidupku, sering merasakan otak dan perasaanku sepakat untuk tidak bersepakat. Saat logika berkata A, perasaanku berkata Z. Demikian sebaliknya.
Seperti halnya penolakanku untuk pulang bukan berarti hal final, ada bagian dari hatiku yang masih berontak. Tapi ya sudahlah, mengalir saja, aku percaya pada suatu titik waktu akan ada yang lebih mendominasi, pikiran atau perasaan. Dan pada saat itu keputusan harus kuambil, apapun konsekuensinya.
"Ibu Nies"
Petugas TPS memanggil namaku. Aku beranjak ke meja, mengambil surat suara dan melangkah ke bilik suara. Membuka lipatan kertas suara, membentangkannya di atas meja.
Lalu pilihan pun ditetapkan.
Aku kembali melangkah untuk memasukkan surat suara ke kotaknya. Lalu menuju tempat tinta, mencelupkan ujung kelingking dengan perasaan lega.
Handphone dalam kantong kanan jeansku bergetar. Ada SMS masuk.
Oh, SMS dari Bibiy.
Nyontrengnya sdh selesai, Beib? Nanti langsung ke rmh aja ya.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Tuesday, July 7, 2009
Rancangan Rapi
Oleh: Bolu
Aku dan Pak Tio merahasiakan hubungan kami di kantor, tentunya. Paling tidak, belum ada pengumuman resmi. Belum saatnya. Urusan kantor bukanlah prioritas utama kami. Lagi pula apa sih yang bisa diberitahu kepada orang-orang kantor? Relationship macam apa yang kami punya? Tapi aku yakin, gosip akan menyebar sebentar lagi karena seringnya aku pulang diantar Pak Tio.
Pak Tio mengajakku sekali bertemu dengan keluarganya. Senyum dan banyak mengangguk. Bersikap ramah. Ibu Pak Tio sangat ramah, tidak sampai cerewet seperti tanteku sih. Dia kelihatan bahagia melihat Pak Tio membawa "teman" perempuan ke rumah. Kebahagiaan yang tulus dan tidak dibuat-buat. Aku bisa melihat binar harapan di matanya, dan pada saat yang sama binar itu juga membuatku membuang muka tak sanggup membuatnya kecewa.
Adegan aku ke rumah Pak Tio sudah dirancang dengan rapi. Pura-puranya aku datang tanpa sengaja. Pak Tio sudah pergi dari rumah lalu menjemputku untuk menghadiri dinner party klien kami. (Yang sebenarnya hanya karangan). Lalu Pak Tio dan aku kembali lagi ke rumahnya karena undangan yang harus dibawa tertinggal di rumah Pak Tio. Demi kesopanan aku harus masuk ke rumah dan bertemu dengan ibunya.
Rancangan adegan tersebut berjalan sukses, kata Pak Tio. Pulang dari "party" itu ibunya bertanya ini-itu kepada Pak Tio. Aku tidak bertanya apa "ini-itu"nya. Terlalu personal rasanya bertanya seperti itu.
Sementara aku sendiri sebulan terakhir ini nggak pernah mengajak Pak Tio masuk ke rumah. Kami juga jarang pergi. Kadang-kadang kuminta Pak Tio menjemputku di rumah pada weekend lalu meninggalkanku di mal untuk hang out bersama teman-temanku, kemudian dia akan mengantarku pulang nantinya.
What a boring life. Seringnya, namanya juga single, aku menghabiskan waktuku sendirian.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Monday, July 6, 2009
Kamu Novelis Bukan?
Oleh: Donat
Saya berdiri kebingungan di depan perempuan yang terbaring di lantai. Suasana damai berubah gaduh. Beberapa pelayan yang bekerja di sana mengelilingi greeter tersebut, berusaha membangunkannya. Saya sendiri berdiri terpaku salah tingkah, tidak melakukan apa-apa karena terlalu kaget. Setelah beberapa saat, keadaan menjadi terkendali setelah pekerja yang perlahan siuman dipindahkan.
Efek pasca-pingsan itu membua kaki saya gemetaran. Debar jantung tidak berhenti menggila. Ada-ada saja! Saya bergerak masuk ke lounge, merasa aura percaya diri merosot tiga poin. Nah, itu dia. Seseorang melambai kepada saya sambil tersenyum. Saya mengangguk, bergerak ke meja yang terletak agak di tengah.
Wartawan itu bernama Siska. Di sebelahnya, tampak seorang lelaki yang sedang duduk dengan tenang dan diam. Lelaki itu adalah sahabat saya yang bekerja di bidang yang sama, seorang penulis skenario yang sangat terkenal dan saya kagumi. Namanya Hilman “Lupus” Hariwijaya. Kami langsung mengobrol dengan seru. Hilman yang dari sononya memang pendiam kebanyakan diam.
“Sudah berapa lama berkarir di bidang ini?”
“Sekitar tujuh tahun.”
“Enak ya jadi scriptwriter, Mbak?”
“Jelas enak kalau memberikan penghasilan yang makmur.”
“Apa Mbak hanya bekerja sebagai penulis skenario saja?”
Saya mengerutkan alis, merasa heran dengan pertanyaannya. “Maksudnya?”
“Tulisannya udah pernah diterbitkan belum? Kayak Mas Hilman nih, karya-karyanya sudah diterbitkan dan ditayangkan. Menjadi buku dan film, begitu maksudnya, Mbak.”
Saya terdiam. Kata-kata mendadak kocar-kacir di kepala. Bolehkah saya memberitahunya tentang keberhasilan saya menulis novel lesbian Club Camilan? Bahwa saya pun – bukan hanya menulis skenario – tapi juga menulis novel seperti Hilman? Saya ingin, tapi... Siska memandang saya sambil tersenyum, menunggu jawaban. Di sebelahnya, Hilman tidak berkata apa-apa tapi matanya lurus memandang saya. Gempa bumi berguncang di kursi yang saya duduki. Sepertinya, adegan mengagetkan greeter yang pingsan tadi terjadi (lagi) detik ini juga.
@Donat, SepociKopi, 2009
Sunday, July 5, 2009
Sepahit Kopi
Tanganku lungai menjauhkan handphone dari telinga. Pelipisku mendadak nyeri hingga tangan kirik refleks menekannya kuat-kuat menghadang agar rasa nyeri itu tidak menjalar ke seluruh kepala. Aku tidak sanggup membuka mata, kerena silau cahaya hanya membuat gambaran kenangan itu semakin jelas dan membuat rasa nyeri pelipis makin menjadi. Kupaksa kelopakmata tetap dalam keadaan terpejam. Biar gelap, biar hening, agar semua lenyap, agar semua terlupakan.
Bisakah aku hanya memilah-milih hal terbaik dari kepingan hidup untuk kuceritakan? Bukankah itu seperti menyisihkan rasa pahit dari kopi dan membiarkan aromanya?
"Pulanglah, Yuk. Sebentar saja" Ini kali ketiga dalam minggu ini Ninda menelepon. Pertama mengabarkan Mama jatuh di kamar mandi dan kakinya bengkak keseleo. Tidak ada obrolan banyak waktu itu, aku hanya mengatakan secepatnya akan mentransfer untuk biaya pengobatan Mama. Kalau perlu sekalian saja berobat ke Singapura biar pengobatannya nggak bertele-tele. Kali kedua, mengabarkan perkembangan kondisi Mama yang masih belum bisa bangun dan memintaku pulang, aku menolak.
"Apa kalau aku pulang kaki Mama akan sembuh?"
"Jangan ngomong begitu, Yuk. Nanti Ayuk menyesal" nada suaranya ditekan memperingatkanku.
"Ninda, aku sudah tidak bisa menghitung berapa banyak penyesalanku. Tapi apa semua itu bisa membuat Mama bisa mengerti keadaanku dan tidak selalu memaksakan kehendaknya? Apa Mama pernah menghitung penyesalanku? Tidak, kan? Enam tahun, Nin. Enam tahun aku nggak pulang. Toh selama itu semua baik-baik saja kan? Mama lebih bisa menghargaiku kalau aku jauh. Sedikit saja lebih dekat aku bau kotoran"
"Itu kesepakatan konyol. Mama dan Ayuk sama-sama keras kepala. Kalau sudah emosi lupa sama segala hal"
"Sudahlah. Tidak udah dibahas lagi. Kamu juga jangan terlalu mendramatisir. Lagian Mama toh hanya keseleo"
"Terserah Ayuk saja lah."
Aku merasakan kepahitan memenuhi tenggorokanku. Kepahitan karena menyimpan kebencian pada sikap perempuan yang telah melahirkanku dan membesarkanku dengan penuh perjuangan. Aku tahu Mama mencintaiku, tapi tidak berarti berhak 100% memutuskan apa yang harus aku lakukan. Apalagi memutuskan aku harus menikah dengan siapa. Itu mengerikan.
Semua ini membuatku berpikir kalau hidupku tidak akan pernah lepas dari kepahitan. Seperti rasa pahit yang tak akan mungkin terpisahkan dari kopi.
@Brownies, SepociKopi, 2009
Labels: #Brownies, family, health, perempuan, pernikahan
Saturday, July 4, 2009
Cerita Cinta
Oleh: Bolu
Saat berada di sampingnya aku sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Rambutnya dipotong pendek dan dibentuk dengan model acak-acakan, tapi modis dan bergaya. Penampilannya yang tenang dan cool membuatku sering menahan napas kalau ada di dekatnya. Tidak mengerti mengapa selalu tertarik dengan mereka yang tidak bawel dan dapat mengendalikan diri.
Kalau ada kesempatan untuk menyentuhnya, aku akan melakukan sentuhan-sentuhan persahabatan yang tidak penting, yang oleh mata awam adalah kegiatan sepele. Tapi sentuhan semacam itu membuatku berdebar-debar.
Jika bisa punya waktu untuk dihabiskan bersamanya, dengan penuh semangat aku mengikutinya ke mana pun dia pergi. Menonton bioskop bersamanya. Jalan-jalan ke mal. Menemani minum cokelat kegemarannya.
Sejauh ini aku tidak pernah menyatakan perasaanku padanya. Diam berarti emas, nggak tau siapa orang menyarankan itu. Aku tidak tahu merasa bodoh atau gembira, memikirkan bagaimana aku belum memberitahu apa yang kurasakan kepadanya.
Melihatnya membuatku berpikir tentang siapa aku, tentang hatiku, tentang (si)apa yang aku inginkan dalam hidup. Hanya menyebut namanya saja, jantungku berdebar-debar dengan kencang.
Danielle.
Anak baru. Baru saja sebulan datang, tapi rasanya aku sudah kena demam berkepanjangan. Nama itu tercecap dalam lidahku seperti permen mint yang lumer pelan-pelan. Mengalir masuk kerongkonganku. Meninggalkan rasa manis yang menimbulkan rasa ingin lagi dan lagi.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Friday, July 3, 2009
At Lounge
Oleh: Donat
Saya melewatinya. Sekali. Dua kali. Penampilannya tetap sama seperti yang saya ingat. Celana panjang hitam dan kemeja putih. Rapi dan modern. Saya berhenti waktu melintasinya pada kesempatan ketiga. Saya terpaku, memandangnya dari jauh.
Tiga meter. Dua meter. Mendekat... Satu meter. Semakin mendekat... Setengah meter. Oh! Kini hanya tinggal sepuluh senti meter.
Hidung dan hidung. Mata dan mata. Bibir dan bibir. Uap napas mengembun.
Saya tersenyum di depan cermin besar yang menjadi pilar raksasa di sebuah hotel bintang lima. Wajah saya terpantul di sana, tersenyum lebar menampilkan deretan gigi yang rapi. Sudah sempurna semuanya? Rambut tersisir rapi? Cek. Kulit wajah tidak keringetan? Cek. Penampilan tidak kucel? Cek. Aura percaya diri? Cek. Busana tidak terkesan murahan? Cek.
Hari ini adalah hari penting, hari wawancara. Saya akan berjumpa dengan wartawan dari sebuah majalah perempuan lifestyle terkenal. Mereka hendak melakukan wawancara sehubungan dengan gaya hidup dan mata pencaharian seorang perempuan metropolitan. Saya akan masuk sebagai profil utama di rubrik karier dan pekerjaan pada majalah itu.
Saya tersenyum untuk terakhir kalinya kepada diri sendiri sebelum meninggalkan cermin, melangkah ringan menuju lounge yang bergaya retro, titik pertemuan kami. Seorang greeter menyapa saya. "Good morning. Welcome to-"
BRUK!
Saya terlompat. Gadis berseragam di depan saya yang menyambut saya tiba-tiba lemas lalu terjatuh di lantai begitu saja.
@Donat, SepociKopi, 2009
Thursday, July 2, 2009
Apa Pendapatmu?
Dengan bangga, SepociKopi mempersembahkan novel yang diangkat dari blog Camilan SepociKopi:
Judul Buku: Club Camilan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Donna Talitha, Bella Widjaja, Brigitta NS
Akan diluncurkan pada awal bulan Agustus 2009 (informasi menyusul)
Para pembaca dan fans berat Camilan, yuk ikut bergabung memberi sumbang pendapat untuk cover pilihan Club Camilan. Apa menurut pendapatmu tentang dua sampul buku yang akan menjadi buku? Nyatakan pendapatmu di komen-komen ya! Ditunggu loh, terima kasih!
Salam,
Redaksi SepociKopi
(*) klik di gambar untuk memperbesar
Wednesday, July 1, 2009
A Brand New Day
Pintu dibuka kembali. Kehidupan baru terbangun di pojok Camilan SepociKopi. Selamat datang semuanya! Terima kasih untuk para lesbian yang bersemangat mengikuti Lomba Resensi Camilan SepociKopi Season 1. Banyak sekali resensi yang masuk ke meja redaksi, membuat sulit untuk mengambil keputusan. Setelah menimbang dan menilai semuanya, akhirnya inilah dia, dua pemenang yang akan mendapatkan hadiah dari redaksi SepociKopi. Buat yang lain, ikutan lagi ya kalau ada acara perlombaan penulisan seperti ini :)
Para pemenang (berdasarkan alfabet):
1. Arie Gere
2. Sky
Silakan menghubungi Lakhsmi (jejak_artemis@yahoo.co.id) dan Alex (alex58id@yahoo.com) untuk pengurusan hadiah.
Salam,
Lakhsmi
Deputy Editor-in-chief SepociKopi
Pemenang Lomba Resensi: Camilan yang Menggoda
Oleh: Arie Gere
Bila kita sedang berbelanja di hipermarket, maka tengoklah beraneka ragam camilan yang menggoda dan tertata apik di pojok makanan dan minuman. Saat keranjang atau troli belanja sudah penuh dan sesak dengan barang-barang utama daftar belanja, namun tetap saja, lirikan camilan yang menggoda tak mampu terelakkan oleh mata. Dicoba sekali, tetapi rasanya ingin mengunyah berkali-kali. Diteguk sekali, namun lidah masih saja terus mengecapi jenis-jenis cicipan lainnya. Menggoda! Itulah kata kuncinya. Awalnya tergoda, lalu ketagihan. Begitulah kira-kira tentang gambaran sekilas blog Camilan SepociKopi yang terbit setiap hari, sebuah karya persembahan menarik dari Lesbian Webzine SepociKopi.
Secuil, tetapi terus-menerus. Ingin lagi, lagi dan lagi. Penulis Camilan memulai kisahnya dengan tulisan-tulisan ringan namun mampu membuat para pembaca penasaran dan terus menunggu kisah kelanjutannya. Satu hari, satu tulisan, satu penulis. Entah bagaimana awalnya, para penulis hanya bertutur sederhana tentang kisah-kisah kehidupan mereka, tanpa diawali dengan sebuah perkenalan resmi kepada pembacanya. Perkenalan blog Camilan hanya diulas sekali saja oleh Lakhsmi, dalam tulisan berjudul “The Gift” (1 Juli 2008). Sedangkan di blog Camilan, para penulis hanya benar-benar menulis saja tanpa mencantumkan tujuan atau narasi singkat tentang isi blog-nya. Para pembaca baru mungkin sedikit mengerutkan dahi tentang apa dan bagaimana isi Camilan yang dibacanya. Namun demikian, itulah key factor-nya. Penasaran. Pembaca terbius membaca tanpa henti, tak sabar menunggu kelanjutan kisah para penulis kesayangan; Donat, Bolu, Brownies; di hari-hari selanjutnya. Demam sinetron episode demi episode? Tergila-gila pada komik dengan seri-seri berlanjut? Seperti itulah kehadiran Camilan, yang membius para pembacanya hari demi hari dengan kisah-kisah para penulisnya. Sebuah persembahan blog-drama miniseri yang menampilkan kisah nyata lesbian masa kini, dengan beraneka ragam cerita cinta, pekerjaan, persahabatan, keluarga, keluh kesah, pengharapan dan cita-cita yang ingin dicapai para penulisnya, Donat, Bolu, dan Brownies.
Donat mengisi ruang-ruang kosong memori pembacanya dengan kisah cinta yang mengambang terhadap tiga perempuan sekaligus , Nicolle Rosalinda, Margareth dan Maya. Sepertinya, Donna (panggilan Donat) benar-benar pasrah dan mengaburkan pembaca karena tak dapat memutuskan kepada siapa cintanya harus berlabuh. Padahal jelas, Donna tak bisa berhenti memikirkan kelinci putihnya, Nicolle. Terlihat dari tulisan berjudul “Everything is illuminated’’, dimana Donna menempatkan Nicolle sebagai yang pertama harus ditemui setelah kepulangannya ke Jakarta sebelum bertemu Maya dan Margareth. Namun demikian, tak serta merta tentang cinta, para pembaca juga turut menyatakan duka yang mendalam hanya dengan membaca judul ‘’Hari ini Ibuku Meninggal’’ pada postingan Camilan yang ke-274. Ditambah lagi, Donna dengan lugas dan berani menceritakan kisah broken home ayah dan ibunya, sampai kemunculan tokoh Amelia di dalam cerita.
Bolu bercerita tentang kisah cintanya dengan dua orang sekaligus, laki-laki dan perempuan, Rico dan Eve, sampai Bolu menyadari siapa yang paling pantas dipilih di antara keduanya. Namun, pembaca makin dibuat penasaran dengan kehadiran seorang tokoh lainnya, yaitu Pak Tio, pimpinan Bolu di kantor yang ternyata adalah seorang gay dan menjalin hubungan persahabatan erat dengan dirinya. Bagaimana kelanjutannya, apakah Bolu dan Pak Tio akhirnya memutuskan untuk ‘berpacaran’ demi tujuan-tujuan tertentu? Nah, inilah yang membikin pembaca terpaksa menunggu sebulan lamanya sampai Season Kedua ditayangkan.
Brownies, anak Palembang yang mengalami gagal cinta teramat dalam, ketika kekasihnya terpaksa menikah dengan seorang lelaki pilihan keluarga. Brownies pun ditinggal kawin oleh Hanny. Hatinya patah, terluka, terpukul sampai-sampai emosinya yang tak stabil. Hampir saja dia merusak karir desain arsitektur dan interior yang telah dibangunnya. Saat itulah, Aiko hadir menawarkan kisah cinta kepadanya dan membuat hari-hari Brownies semakin penuh liku-liku. Apakah nyata ataupun fiksi, Brownies berhasil membuat salah satu pembacanya gemas habis-habisan dengan sikap plin-plannya yang tak berkesudahan. Di sinilah Bianca menampakkan taring aslinya kepada Brownies sampai keduanya bertemu di sebuah museum. Apakah keduanya malah berpacaran sesudahnya? Entahlah, tunggu saja di Season selanjutnya.
Sekali lagi, terlepas dari kisah nyata ataupun fiksi, statistik pengunjung menunjukkan bahwa Camilan berhasil meraup angka di atas 60.000 untuk jumlah pengunjung sampai dengan selesainya Season Pertama. Angka yang fantastis untuk sebuah sub-blog lesbian. Memang, jumlah pengunjungnya tak sebanyak jumlah pengunjung situs induknya, karena hanya sekitar 12% dari jumlah pengunjung setia SepociKopi yang juga menjadi pengunjung setia Camilan. Namun demikian, “Small, Slow, Sustain", itulah konsep alur tulisan yang sedang mengalir di jiwa Donat, Bolu dan Brownies. Berkarya, terus berkarya, dan mari berkarya.
@Arie Gere, SepociKopi, 2009
Pemenang Lomba Resensi: Warna-warni Tiga Pelangi di Jalan yang Menikung Tajam
Oleh: Sky
Saat ini pukul 1.17 dinihari. Setelah seharian menyala, akhirnya laptop ini akan aku beri kesempatan untuk beristirahat juga. Setelah seharian bekerja, akhirnya aku memilih untuk terlelap juga.
Aku ingin bermimpi tentang pelangi. Tentang warna warni penuh tanda tanya yang baru saja aku baca. Tentang tiga orang perempuan yang bahkan tidak aku ketahui nama aslinya. Tentang wajah tertutup bayang-bayang rona merah jingga. Tentang para penulis Camilan SepociKopi dan kehidupan mereka.
Donna, seorang scriptwriter yang berusaha menemukan ujung dari jalan cintanya yang tak henti menetaskan cabang-cabang baru. Nies, arsitek yang berusaha merangkai cerita baru, namun masih dibayangi oleh masa lalu. Bee yang menapaki tikungan jalan selangkah demi selangkah di sisi karier di bidang marketing-nya. Haruskah memaksa diri untuk berjalan lurus meski adanya enggan membuat langkah tertatih? Bolehkah tetap menikung dan mengacuhkan senyum Mama yang menyiratkan seribu harap akan pernikahan sang anak... dengan seorang lelaki, tentunya?
Orangtua dan keluarga memang tidak dapat diacuhkan begitu saja. Ketika pertama kali membuka mata, mereka telah ada di sana, memandang dengan penuh haru. Ketika harus menutup mata untuk terakhir kalinya, besar kemungkinan bahwa mereka juga akan ada di sana, mengantar dengan penuh ragam yang harus ditahan. Hal ini juga tampaknya disadari dan ditampilkan oleh ketiga penulis Camilan SepociKopi. Donna, misalnya, akhirnya memilih untuk membatalkan rencana pembelian apartemen dan membiayai pengobatan ibunda tercinta. Di sisi lain, Nies menyadari bahwa langkahnya di jalan menikung mungkin diawali oleh keinginannya untuk menjadi kuat dan menggantikan sang ayah yang telah tiada untuk melindungi keluarga. Sementara itu, Bee tidak bisa menyalahkan keluarganya atas rasa suka sesama yang ia miliki, dan memilih mencoba menghabiskan waktu dengan seorang lelaki untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan keluarganya.
Namun, adakah itu menghentikan langkah mereka di jalan panjang yang terus menikung? Ternyata tidak. What they don’t know don’t hurt. Mungkin kalimat itulah yang paling tepat menggambarkan keadaan mereka semua. Berjalan di setapak menikung memang tidak mudah. Menjadi lesbian di negara yang masih menabukan hubungan sesama jenis seperti Indonesia berarti harus siap menghadapi konflik, baik internal maupun eksternal. Meskipun demikian, hal itu tidak menghalangi Donna, Nies, ataupun Bee untuk terus berkarya. Hal inilah yang membuat kelanjutan kisah mereka menjadi sangat layak untuk ditunggu.
Sayangnya, jendela maya itu kini tidak menampilkan apa-apa kecuali halaman yang itu-itu saja. Aku harus menunggu dengan sabar hingga warna-warni kembali menari, meretas jalan cerita baru tentang mereka yang telah menjadi inspiratorku. Membaca kisah ketiga perempuan yang berjuang keras dalam hidupnya membuatku dapat berharap, sedikit banyak, bahwa aku juga bisa lebih baik daripada diriku saat ini. Meskipun aku perempuan. Meskipun aku lesbian…
Aku berusaha bersabar dan menunggu. Adakah kalian menunggu bersamaku?
@Sky, SepociKopi, 2009





