Tuesday, February 9, 2010

Pejam

Oleh: Brownies

"Beib, lo aneh deh. Lo kenapa sih?" Dentingan cangkir beradu dengan permukaan meja atau sergahan Bibiy yang membuatku terperangah, aku tidak tahu. Yang jelas aku gelagapan.

"Ehh...enggak. Nggak kenapa-kenapa kok!"

Bohong.

"Lo yakin?"

"I...iya. Yakin. Cuma lagi mikirin kerjaan kantor. Emang kelihatannya gimana?"

Bohong lagi.

"Lo nggak fokus sama gue. Gue ajak ngobrol ho-oh aja dari tadi. Sampai iklan shampo anti ketombe aja lo tonton habis. Mata lo di TV tapi pikiran lo kayanya kemana-mana"

"Begitu ya?"

Lain kali aku nggak boleh bengong.

Aku tidak ingin berbohong. Apalagi sengaja. Ini hanya badai dalam pikiranku. Tidak, aku tidak ingin selingkuh dengan hal yang belum jelas. Aku hanya ingin tahu. Tapi tidak yakin, apakah keingintahuanku itu akan menganggu Bianca atau tidak. Kalau menganggu, lebih baik aku menutupinya. Apakah tidak terus terang sama dengan berbohong?

"Gue cuma mau bilang untuk sekian kalinya, gue lebih suka lo cerita terus terang, supaya gue tau apa yang gue bisa lakuin buat lo. Tapi kalo soal urusan kantor, gue tau gimana cara bikin lo lupa sama urusan kantor." Bianca mengerling.

Jantungku berdebar kencang. Tenggorokanku kering. Kaosku tersingkap pelan-pelan. Telapak tangan hangat bergerak lembut memindai rusukku dan terus naik bergerak perlahan...

Aku lupa segala. Lupa semua. Hanya mata terpejam.


@Brownies, Sepocikopi, 2010

Monday, February 8, 2010

Satu Hari Sedih

Oleh: Bolu

I'm in my darkest mood. Segalanya kacau-balau. Urusan pekerjaan berantakan, ada miskomunikasi antar bagian yang mengharuskan kami lembur malam ini. Pak Tio memanggilku ke ruangannya ketika kami sedang menunggu delivery makan malam datang.

“Bee, kita perlu bicara,” katanya sambil menutup pintu ruangan kerjanya. Aku langsung duduk di kursi tamu. Pak Tio mengambil tempat di sebelahku. Wajahnya kelihatan gelisah. “Bee...,” panggilnya lagi.

“Ya,” jawabku. Bersiap-siap menerima apa pun kalimat yang ingin dikatakan Pak Tio.
“Aku ingin putus.” Pak Tio langsung berkata tepat pada sasaran.
Sejenak aku terdiam, pikiran pertamaku yang terlintas adalah, “Memangnya kami pernah jadian?”
Mungkin diamku berubah jadi lamunan sehingga Pak Tio mengguncang pahaku. Aku buru-buru menoleh memandangnya.

“Ya, Pak...”
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Aku mengangguk.
“Nggak apa-apa, kan?”
Aku menggeleng.
“Aku perlu menikah, Bee. Aku nggak bisa kalau kamu mengulur-ulur waktu begini.”
“Ya, ya, saya, paham, Pak.”
“Aku perlu secepatnya mencari istri.”
Pak Tio bicara seolah mencari istri itu seperti mencari sepatu baru. “Ya, Pak. Saya mengerti kok. Ada lagi?” tanyaku sambil bangkit dari tempat duduk.

“Err... Bee, kamu juga perlu tau...”
Langkahku terhenti. Menunggu Pak Tio melanjutkan.
“Kamu juga perlu tahu bahwa... aku sekarang jadian sama Nia.”
Mendadak jutaan kata-kata makian terlontar dalam benakku. Entah kenapa aku merasa dikhianati. Aku marah. Kepada Nia dan Pak Tio. Tapi tak ada yang terucap dari mulutku. Aku hanya melangkah keluar, berjalan menuju kamar kecil dan menangis habis-habisan di sana.

@Bolu, SepociKopi, 2010

Sunday, February 7, 2010

Siapa yang Merawat?

Oleh: Donat

Demam. Kepala pusing. Mual.

Sudah tiga hari sakit, tidak sembuh-sembuh. Tidak punya kesempatan istirahat, saya memaksa diri bekerja. Di hari ketiga, saya ambruk. Tidak sanggup lagi bekerja apa-apa. Saya ke dokter. Kata dokter, saya kena gejala tipus.

Di rumah, tidak ada yang mengurus saya. Dapur sepi. Tidak ada makanan. Saya putuskan menelpon Mbak Nani.

"Mbak, tolong jemput aku," kata saya lemas. "Aku sakit berat."

Setelah saya jelaskan sakit apa, Mbak Nani langsung sibuk sendiri. Dia tidak keberatan untuk mengurus saya. Malah dia kuatir kalau saya tidak ada yang urus. Daripada saya di opname di rumah sakit, dia lebih suka saya menginap di rumahnya.

Jadilah saya menyiapkan tas berisi baju-baju saya. Selama saya menunggu Mbak Nani, saya menulis Camilan di Blackberry saya, sambil mengobrol dengan Nicole di chat. Dia ingin merawat saya. Saya ucapin terima kasih atas perhatiannya, tapi sayang saya udah keburu menelpon kakak saya.

Sampai di sini dulu tulisan saya karena kepala saya pusing sekali dan sebentar lagi Mbak Nani datang. Saya mau menelan obat lalu tidur. Semoga semua berlalu dengan baik-baik saja.

Eh, ini tambahan. Ada SMS masuk waktu saya sudah berada di mobil Mbak Nani. Dari Amel dan Margareth.

@Donat, SepociKopi, 2010

Saturday, February 6, 2010

Sepuluh

Oleh: Brownies

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melupakan seseorang yang pernah teramat dicintai, dan beberapa tahun hidup bersama?

Sejujurnya,tidak pernah akan sebentar. Dan semua berjudul: hari buruk. Kenangan-kenangan melintas dan bersliweran menjelma menjadi hantu. Di rumah, di kantor, di jalanan dan di wajah orang-orang di sekelilingmu. Membuntuti dari bangun tidur hingga saat mata akan terpejam.

Tapi tidak sampai kau jatuh cinta lagi.

Luka itu ada. Lobang yang menganga lebar karena kehilangan itu nyata adanya. Tapi cinta, jatuh cinta atau dijatuhi cinta mampu membuatkan ingatanmu teralih. Mungkin efeknya seperti morfin, tidak mengobati luka tapi mampu membuatmu tidak menyadari rasa sakitnya.

Aku sekarang menyadari, kehadiran Bianca mengalihkan duniaku. Mengalihkan segala perhatianku. Mengalihkan ketakutanku pada belitan kenangan bersama Hanny.

Hingga perempuan di depan Poli Anak itu mengingatkanku. Sosoknya sangat mirip Hanny, dengan seorang bayi dalam gendongannya.

Artinya, telah sepuluh bulan berlalu sejak aku memeluk cardigan merah maroonnya di ruang ganti. Sepuluh bulan berlalu setalah aku berdiri di hadapannya dan mengucapkan doa restu atas pernikahannya.

Sepuluh bulan sesudahnya... Dengan seorang Bianca yang kuat, tegar dan mampu menarikku bangkit. Dengan kehidupanku yang kembali berdenyut. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kehidupan yang dijalani Hanny, dan bayinya..., mungkinkah telah lahir?

Aku sungguh ingin tahu.


@Brownies, Sepocikopi, 2010

Friday, February 5, 2010

TTM

Oleh: Bolu

"Eve, apa sih yang kita lakukan ini?" tanyaku ketika kami bertemu sepulang kerja.
"TTM?" Eve bertanya balik.
"Aku nggak suka istilah TTM!" jawabku cepat.
"Ya, kamu maunya apa?" tanya Eve. Dia menghela napas. "Ah, sudahlah, Bee. Nggak perlu dinamai, kan?"

Aku ikutan menghela napas, lebih panjang dan dalam. Belakangan aku malah jadi dekat lagi dengan Eve, karena aku tidak bisa melampiaskan frustrasiku dalam hubungan dengan Danielle. Ya, meskipun saling mencintai, berhubungan dengan istri orang amat menekanku---masalah Danielle sendiri, pekerjaanya, anak dan suaminya, meskipun Danielle berusaha tidak menceritakan urusan keluarganya kepadaku. Sebanyak apa pun Danielle berusaha menghabiskan waktunya bersamaku, aku merasakan kehampaan yang makin besar setiap kali kami berpisah. Di kala itu datang Eve. Dialah yang mengisi kehampaan itu.

"Kenapa sih kita nggak pacaran lagi?" tanya Eve tegas memutus lamunanku. "Buat apa kamu ngabisin waktu sama istri orang itu?"

Aku melotot memandang Eve lalu membuang muka, terlalu emosi menanggapi Eve. Selintas bayangan Eve bersama teman-teman perempuannya, bersama entah pacarnya yang mana lagi sekarang merasuki otakku. "Kamu masih sayang aku kan, Bee?"

"Bee?" panggil Eve, menyentuh lembut bahuku ketika aku tidak menjawab.
Aku langsung berbalik dan masuk ke pelukan Eve. Tidak peduli bahwa kami berada di tempat umum, di sebuah kedai kopi di sudut mal. Aku hanya ingin menyembunyikan tangisku di pelukan Eve.

"Ssshh... Sudah... It's okay...." Penuh sayang Eve mengusap-usap punggungku yang naik-turun menahan isak yang tak kunjung berhenti.

@Bolu, SepociKopi, 2010.

Thursday, February 4, 2010

In Solitude

Oleh: Donat

Saya lemas di ranjang, tepar. Setelah kehujanan, kecapekan, dan terlambat makan, saya ambruk juga. Tidak sanggup melakukan hal-hal lain, saya hanya ingin meringkuk di ranjang saja.

Hujan deras menerpa genting, memukul-mukul atap dengan suara riuh. Saya jadi ingat genting rumah Amel yang katanya bocor. Besok-besok saya akan suruh dia menambalnya dengan biaya dari saya. Saya berjalan merayap menuju meja makan, butuh makan sesuatu yang hangat sebelum menelan obat.

Tadi sebelum pulang kantor saya membeli nasi tim. Saya buka kotaknya, meraba dengan jari. Ah, sudah agak dingin. Saya harus menghangatkannya lagi.

Saya merayap lagi menuju dapur, menyiapkan dandang, mengisi air, dan menyalakan kompor. Setelah itu saya letakkan nasi tim di mangkuk kaleng yang harusnya tersimpan di... eh, di mana ya? Saya melongok-longok di laci dapur. Ke mana Amel letakkan? Biasanya ada di sini.

Saya mengambil tisu dan membersihkan hidung yang kotor oleh ingus. Mangkuk kaleng itu akhirnya saya temukan. Dipindahkan oleh Amel. Saya membereskan makanan saya dengan cepat, dalam kesendirian.

Aneh rasanya. Biasanya ada Amel yang menyiapkan segala-galanya untuk saya. Saya juga biasa mendengarkan kicau riang suaranya. Burung pipit yang dipiaranya juga seakan-akan memusuhi saya. Mereka tidak seceria biasanya. Ah, ataukah itu perasaan melankolia saya yang berlebihan?

Saya duduk makan sesendok demi sesendok. Rumah pekak dalam keheningan. Saya buru-buru menyalakan televisi agar tidak terlalu diam. Dalam kesendirian, saya berpikir tentang takdir seorang lesbian yang menerima kekalahan ditinggalkan oleh keluarga karena kelesbianannya tapi tetap menghadapinya dengan ketegaran seorang pemenang.

@Donat, SepociKopi, 2010

Wednesday, February 3, 2010

Pintu

Oleh: Brownies

Tidak mungkin.

Mungkin saja.

Tapi kan, dia tidak di sini.

Orang tuanya di sini.

Memang butuh berapa bulan?

Hitung saja berapa bulan.

Pertanyaan dan jawaban terus bersliweran di kepalaku. Mataku terus terpaku ke arah pintu yang menelan hilang perempuan itu. Sebagian diriku meyakini. Sebagian lagi mengingkari. Keduanya sama-sama bertarung dan punya argumen yang kuat.

Hingga tepukan di bahu membawaku ke dunia nyata.

"Lo ngeliatin apa sih, Beb?"

Aku gelagapan. Mencari jam dinding di cafetaria, padahal dilenganku sendiri melingkar jam tangan, berupaya menutupi kekagetanku.

"Katanya lama" aku coba mengalihkan obrolan.

"Ya memang lama, kopi lo aja sampai dingin. Kalau lagi fokus sama sesuatu memang nggak berasa lama."

Bibiy menyentil cangkir kopiku yang masih utuh.

"Ngeliatin apa, sih?"

Jujur/tidak.

Jujur saja!

Jangan. Nanti jadi biang masalah lagi.


"Nggak, kok. Nggak liat apa-apa"

"Yaelah, Beib. Hare gene lo masih mau nutup-nutupin ama gue! Ekspresi lo, mata lo, nggak bisa bohong. Lo ngeliatin suster, ya?"

Bibiy akhirnya menyeruput kopiku yang sudah dingin.

"Ng...nggak sih, tadi emang ada suster. Tapi aku ngeliatin ibu-ibu yang lagi gendongin anaknya. Padahal anaknya ada yang udah gede begitu ya. Bobotnya sampai lima belas kiloan kali, tuh. Kuat banget tuh si ibu."

Huff. Lega.

"Been there, done that! Yuk, ah. Kita pulang, Beib."

Bibiy beranjak ke arah kasir, membayar kopi yang sepotong brownis kukus yang tidak sempat kusentuh. Mataku masih menatap pintu itu. Sampai Bibiy menggandeng tanganku berjalan ke arah pintu keluar.

@Brownies, Sepocikopi, 2010

Tuesday, February 2, 2010

Hampa

Oleh: Bolu

“Nanti malam kita nonton ya,” ajak Danielle.
“Tumben bisa keluar rumah,” jawabku.
“Aku kasian aja kamu kan suka nonton, sesekali mau nemenin kamu,” jawab Danielle manja.
“Anak siapa yang jaga?”
“Kebetulan mamaku datang dan aku bisa keluar. Sudah jangan tanya-tanya. Kamu masih mau nonton Sherlock Holmes?”

Kami memutuskan untuk nonton pertunjukan sore karena Danielle tidak bisa pulang terlalu malam dan aku tidak bisa keluar kantor sebelum jam lima sore. Jam 17.45 waktu yang tepat untuk nonton. Sebelumnya Danielle membeli tiket lebih dulu.

Panggilan masuk teater sudah dilantunkan mataku menemukan Danielle yang sedang membeli popcorn. “Hei, Danielle,” aku memanggilnya.
“Hei, Bee. Kamu suka popcorn yang manis, kan?”
Aku mengangguk. “Udah beli tiket?” tanyaku.
“Nih, pegang.” Danielle memberikan tiketnya padaku. Dengan dua tangan yang terampil, Danielle memegang kotak popcorn di tangan kiri dan kantong minuman di tangan satunya lagi.

Hampir setengah tahun aku bersama Danielle, tapi ini kali pertamanya kami sempat nonton di bioskop bersama. Tangan kami bergenggaman di dalam bioskop, semuanya terasa manis, semanis popcorn. Lalu aku pulang, dan dia pulang ke suaminya.

Jam 22.05 sekarang. Aku merasakan tangan yang menyentuh Danielle terasa hampa. Dia sudah pulang ke rumahnya, sibuk bersama keluarganya. Aku memegangi hape, menunggunya mengirimku pesan ketika benda itu bergetar.

Kubuka penuh semangat dan melihat nama pengirimnya. Eve. Sedetik aku bingung mengira itu Danielle. Ternyata Eve. Sedetik kemudian, senyum terbentuk di bibirku ketika membalas SMS-nya.

@Bolu, SepociKopi, 2010

Monday, February 1, 2010

Birds on the Rooftop

Oleh: Donat

Saya menunggu dengan sabar sampai Mbak Nani pulang duluan. Dia sudah tiba dua jam sebelum saya, jadi pasti dia akan pulang cepetan.

"Mbak pulang dulu ah. Pamit dulu, Donna."

Betul kan, dia memang akan pulang dulu.

Ditinggal Mbak Nani, aku mencari Amel. Dia tidak ada di dalam kamarnya. Saya cari dia keluar. Nggak ketemu juga. Saya makin penasaran. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya saya menemukan dia sedang duduk di batu, memandang ke titik kosong di langit melewati atap rumahnya yang kelihatan dari tempatnya berada. Di sekelilingnya, kambing merumput.

"Mel," sapa saya pelan.

Dia tidak menjawab.

"Mel," sapa saya lagi.

Dia tidak menjawab. Jilbabnya berwarna hitam terayun ke kiri kanan dipermainkan embusan angin. Saya bergerak pelan di belakangnya, lalu diam-diam duduk di sampingnya.

"Mel," panggil saya pelan.

Seekor kambing betina mengembik-embik memanggil anaknya. Tidak ada suara lain, selain suara angin dan embikan kambing. Ketika Amel menoleh, saya baru sadar mata Amel tampak berkaca-kaca. Rupanya dari tadi dia menangis pelan-pelan. Terkejut, saya merengkuh dia dalam pelukan saya. Langit biru menyapukan kuasnya menjadi pucat, sebelum berubah warna menjadi kelabu. Di pelukan saya, rasanya langit itu pindah ke wajah Amel.

"Mel..." Saya tersendat. "A... ada apa?"

Saat saya bertanya seperti itu, burung-burung beterbangan di atap rumah Amel yang katanya bocor.

@Donat, SepociKopi, 2010